Politik Identitas dalam Nalar “Kesadaran” Politik Identitas dalam Nalar “Kesadaran”
GerbangBengkulu – Menjelang Konstelasi Politik 2024 ini, para actor dan tokoh-tokoh politik dari tingkatan Presiden, DPRI, Kepala Daerahpun telah bergerilya turun mengkampanyekan dan berlomba... Politik Identitas dalam Nalar “Kesadaran”

GerbangBengkulu – Menjelang Konstelasi Politik 2024 ini, para actor dan tokoh-tokoh politik dari tingkatan Presiden, DPRI, Kepala Daerahpun telah bergerilya turun mengkampanyekan dan berlomba untuk mengambil aspirasi hingga pesta demokrasi nanti di gelar. Politik & Masyarakat adalah hubungan sebuah mata rantai yang tidak dapat di pisahkan. Walaupun dalam kehidupan pribadi dan bersosial kita selalu menggunakan pisau politik dalam berkomunikasi pada siapapun (Identity Politik). Karena pada prinsipnya Politik adalah Nalar untuk menguasai atau mengambil simpati.

Kesadaran dalam berpolitikpun berpengaruh kepada Perkembangan Ekonomi daerah dan Negara cepat atau lambatnya, serta sebagai lokomotif perkembangan sebuah Bangsa yang berdemokrasi. Di tengah-tengah masyarakat kita yang multicultural ini dengan beragam Budaya, Ras, Agama, Pulau, serta Suku Bangsa dalam bingkai “BHINEKA TUNGGAL EKA”. Nalar berpolitik para politikus hendaknya perlu mengarahkan, mendidik “Kesadaran” masyarakat dalam membangun sebuah daerah, dengan orientasi setidaknya Ideal, dan harus berani mengambil langkah jauh dari politik kepentingan identity ke sektor yang lebih luas, tetapi itu sangatlah tidak gampang karena kesadaran masyarakat kita sendiri pun masih sangat kental dengan Politik Identitas (Siapa, dari mana, agama apa, dan dari partai mana).

Disinilah letak peran Partai Politik yang seharusnya dapat mendidik masyarakat cara berpolitik dengan ideal, yang sangat masih jauh dengan harapan kata “Ideal”.

Masyarakat juga perlu menyadari bahwa penting adanya ada Oposisi & Koalisi, adanya oposisi sebagai penyeimbang jika Nalar Kesadaran politik bersebrangan dengan Kepentingan hingga merugikan masyarakat.

Koalisi juga di butuhkan untuk mendukung program-program pemerintahan yang benar-benar membangun sebuah daerah atau negara.

Kesadaran masyarakat kita pun saat ini masih terdogma dengan Politik Identitas yang sangat kuat, terutama pada arus masyarakat awam atau tradisional, Walaupun secara ideal kita seharusnya melepaskan terlebih dahulu hal tersebut dalam konteks membangun. Hal ini memerlukan kesadaran kita bersama untuk membangun kesadaran berpolitik yang lebih terarah.

Perlu kita sadari juga bahwa sebenarnya masyarakat terjebak kejenuhan dengan hasil rekayasa politik dan hasil politik yang mengecewakan. Ini terjadi lebih kepada yang di tokohkan tidak menggapai kesuksesan dalam bertarung dalam pesta demokrasi. Kita juga sebagai masyarakat juga hendaknya harus lebih dewasa dalam menyikapi hal-hal tersebut sekali lagi dalam sektor membangun. Tidak terbawa pada arus sakit hati, sehingga lupa bahwa kita sebagai masyarakat juga wajib memiliki peran untuk kemajuan sebuah daerah atau negara..
Ada hal lain yang sebenarnya Jauh Lebih Penting dari POLITIK, seperti apa yang di katakan DR. K.H Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gusdur bahwa yang lebih penting dari POLITIK adalah kemanusian.. Nalar kemanusiaan ini lah yang perlu di jaga serta “Tidak Ada Jabatan di Dunia ini yang perlu di pertahankan Mati-matian”.(Red)

Penulis: Novpawan Andrianto
Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Kota Malang

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *