Pariwisata Itu Prinsipnya Bisnis Berbasis Kebahagiaan Pariwisata Itu Prinsipnya Bisnis Berbasis Kebahagiaan
GerbangBengkulu – Mengapa orang ingin berwisata, karena ada satu tujuan personal yang ingin dicapai. Dari sekian banyak tujuan personal, hampir satu tujuan ini selalu... Pariwisata Itu Prinsipnya Bisnis Berbasis Kebahagiaan

GerbangBengkulu – Mengapa orang ingin berwisata, karena ada satu tujuan personal yang ingin dicapai. Dari sekian banyak tujuan personal, hampir satu tujuan ini selalu ada, yaitu Change Feeling.

 

Perubahan perasaan dari bosan menjadi senang, dari perasaan bosan kerja di kantor menjadi bahagia dan makin akrab dengan rekan kerja, dari kumpul-kumpul keluarga saat Hari Raya agar makin menciptakan kesan kebersamaan maka bersama-sama pergi ke objek wisata. Maka semua aspek yang kontradiktif dari perasaan senang akan menggugurkan prinsip dasar dari berwisata.

Jika ingin bisnis di bidang pariwisata (objek wisata), idealnya prinsip ini menjadi pegangan bagi semua pihak yang berperan di objek wisata. Justru kita mesti ciptakan Wow Experience bagi pengunjung agar tidak merasa bayar mahal atas perubahan rasa yang mereka alami (Experiential Tourism). Kan sudah jelas, semakin lama orang bertahan di lokasi objek wisata maka akan semakin banyak potensi belanja. Jika durasi kunjungan hanya sebentar, maka sulit membuat peluang pengunjung mengeluarkan “pitis/tanci”. Mas Menteri Sandiaga Uno pun telah menerapkan dasar pemikiran pariwisata itu adalah to look, to see, to experience/feel, but to buy.

Idealnya, pembangunan pariwisata tidak pernah bisa berjalan sendiri, perlu adanya kerja sama dalam pengembangan pariwisata. Pembangunan sumber daya manusia, sumber daya alam, infrastruktur, sosial dan budaya perlu dibangun antara pihak-pihak yang berkaitan dengan pengembangan pariwisata.

Konsep Pentahelix merupakan salah satu dasar pijakan pengembangan pariwisata dari Kementerian Pariwisata. Tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Pariwisata Republik Indonesia No 14 tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata yang berkelanjutan. Tujuannya untuk memastikan dan kualitas aktivitas, fasilitas, pelayanan dan menciptakan pengalaman serta nilai manfaat pariwisata.

Pihak-pihak yang dimaksud dalam Konsep Pentahelix adalah:

• Bisnis

• Government

• Akademisi

• Media

• Komunitas

Di Provinsi Bengkulu, sudah berapa intens kah interaksi antar 5 elemen ini?

Dari segmen Bisnis ada pedagang, tour travel, provider Outbound dll. Dari pemerintah jelas Dinas Pariwisata, Pemerintahan Daerah/Kota dan OPD lainnya. Dari Akademisi ada perguruan Tinggi, Dosen, Guru, Peneliti. Dari Media penyiar Kabar berita ada Media online maupun Offline. Dari komunitas adalah asosiasi tempat berhimpunnya Lembaga bisnis & individu yang konsen di bidang Pariwisata. Dan Pengunjung tidak masuk dalam 5 elemen, karena pengunjung adalah customer/pelanggan/ pengunjung yang kita akan colek hatinya dan “buka” kantongnya agar mengeluarkan pitis atau tanci. Apapun yang dirumuskan oleh 5 elemen ini, customer/pelanggan/pengunjung yang menjadi sasaran utama. Pastinya dengan memperhatikan kepedulian lingkungan.

Sependapat kami, di Bengkulu rasanya perlu ditingkatkan sinergitas ini. Jangan sampai ada strategi pembangunan dari pemerintah, hanya pemikiran dari tingkat pemerintah dan akademisi. Jangan sampai akademisi meneliti tentang Desa Wisata tidak melibatkan FGD dengan komunitas, akhirnya mesti memulai dari awal padahal sudah ada yang menginisiasi. Jangan sampai pelaku bisnis terus mencari nafkah di bidang pariwisata namun hanya fokus perang harga atau justru tembak harga dari barang yang sudah terukur nilai produksinya, memaksa pelanggan beli lalu cepat pergi dan SDM yang terlibat belum memiliki sertifikasi.

Mari kita (5 elemen pentahelix) sama-sama benahi cara pandang kita, mari kita temukan perspektif kita, mari kita bangun pariwisata yang berbasis sinergitas. Agar prinsip dasar dari Pariwisata ini berjalan hingga berdampak pada pertumbuhan industri pariwisata.

 

Apa prinsipnya? yaitu menghadirkan kebahagiaan bagi pelanggan dan juga pelaku Pariwisata.

 

Siapa sebaiknya yang menjadi inisiator pembuka kran komunikasi? Semoga ada yang menginisiasi media komunikasi untuk pengembangan industry pariwisata. Memang perlu dibuang jauh-jauh pemikiran dan prilaku, “Lubuk kecik buayo galo”.(Red)

 

Penulis : Ardian Rangga & Krishna Gamawan

Asosiasi Experiential Learning Indonesia dan  Asosiasi Pelaku  Pariwisata Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *