Lima Fakta Pencabulan Siswi 9 Tahun di Kabupaten Seluma Lima Fakta Pencabulan Siswi 9 Tahun di Kabupaten Seluma
GerbangBengkulu – Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Seluma melakukan pengecekan lokasi tindak pencabulan yang dialami Mawar, bukan nama sebenarnya, siswi kelas 4... Lima Fakta Pencabulan Siswi 9 Tahun di Kabupaten Seluma

GerbangBengkulu – Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Seluma melakukan pengecekan lokasi tindak pencabulan yang dialami Mawar, bukan nama sebenarnya, siswi kelas 4 sekolah dasar di Kabupaten Seluma, pada Kamis 10 Oktober 2019.

“Hari ini Kanit PPA cek tempat kejadian perkara asusila di ruang UKS (unit kesehatan sekolah), ternyata UKS merupakan satu ruang dengan mushola,” ungkap Kapolres Seluma AKBP I Nyoman Mertha Dana melalui Kasat Reskrim AKP Rizka Fadhila.

Berdasarkan pemeriksaan saksi, tindak pencabulan terjadi sebanyak dua kali.

“Hasil pemeriksaan terakhir untuk korban lain sampai saat ini belum ada, dan perbuatan itu dilakukan di lokasi yang sama,” beber Rizka.

Berikut fakta pencabulan Mawar (9) siswi sekolah dasar di Kabupaten Seluma:

1. Terungkapnya perkara pencabulan berawal dari orang tua korban yang mendapati percakapan tidak wajar di aplikasi messenger.
“Mendapati pesan tak wajar di inbox, ayah korban korban kemudian membangunkan anaknya yang telah tertidur pulas. Saat ditanya arti pesan di messenger, korban menyatakan telah dicabuli oleh S, yang tak lain adalah gurunya,” ungkap Rizka.

2. Pelaku diamankan dari kediamannya di Kota Bengkulu dan sempat menjadi bulan-bulanan massa sehingga harus dilarikan di rumah sakit Bhayangkara Bengkulu.

3. Tersangka berinisial S (56), adalah aparatur sipil negara (ASN) dan mengajar berbagai bidang mata pelajaran di sekolah. “Tersangka tidak hanya mengajar mata pelajaran agama, namun ia mengajar beberapa mata pelajaran lain,” jelas Rizka.

4. Tindak pencabulan dilakukan di ruang UKS yang lokasinya satu tempat dengan mushola. “Terakhir kali korban dicabuli kondisi korban dalam keadaan sakit sehingga dibawa ke ruang UKS. Pertama kali korban dicabuli juga di ruang UKS namun saat itu korban tidak sakit,” kata Rizka.

5. Pelaku dijerat pasal 76e jo pasal 82 ayat (1) dan (2) UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 64 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun.

Ditegaskan oleh Rizka, pelaku dijerat dengan pasal berlapis karena perbuatannya dinilai telah mencoreng dunia pendidikan dan merusak masa depan anak didiknya. (azm009)

Admin 93

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *