Angka Kasus kekerasan di Masyarakat Sumenep Tertinggi pada Tahun 2016 Angka Kasus kekerasan di Masyarakat Sumenep Tertinggi pada Tahun 2016
Sumenep, GerbangBengkulu– Kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur selama lima tahun terakhir tertinggi pada tahun 2016. Hingga mencapai... Angka Kasus kekerasan di Masyarakat Sumenep Tertinggi pada Tahun 2016

Sumenep, GerbangBengkulu– Kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur selama lima tahun terakhir tertinggi pada tahun 2016. Hingga mencapai 69 kasus.

Dengan rincian, 2016 kasus penelantaran mencapai 19 kasus, KDRT dan pencabulan 7, pemerkosaan 10, pelecehan seksual 1, penganiayaan 8, sodomi 6, perebutan hak asuh anak 2, pemerkosaan (ABH) 2, pencabulan (ABH) 1 dan pencurian (ABH) 5. Dengan jumlah 32 kasus perempuan, 37 kasus anak.

Pada tahun 2017 mencapai 35 kasus dengan kasus penelantaran 11 orang, KDRT 5, pencabulan dan pemerkosaan 6, penganiayaan 1, Minuman Keras (Miras) 3, Laka Lantas 2 dan pencurian 1 orang. Ada penurunan kasus perempuan 20 dan 15 kasus anak.

Kemudian 2018, kasus penelantaran 5, KDRT 13, pencabulan 9, pemerkosaan 3, pelecehan seksual 2, penganiayaan 1, sodomi 1, perebutan hak asuh 6, pemerkosaan (ABH) 2, pencabulan (ABH) 1, pembunuhan (ABH) 1, dan pencurian (ABH) 8. Ada kenaikan kasus perempuan 18 dan untuk anak 34.

Sedangkan pada 2019 penelantaran 2 kasus, KDRT 4, pencabulan 6, pemerkosaan 3, pelecehan seksual 1, perebutan hak asuh 3, penemuan bayi 1, perkelahian (ABH) 3, pemerkosaan (ABH) 2, Laka Lantas (ABH) dan pencurian (ABH) 1. Mengalami penurunan kasus perempuan 8 dan anak 19 kasus.

Dan pada tahun 2020 kasus penelantaran mencapai 23 kasus, KDRT 3, pencabulan 7, pemerkosaan 1, pelecehan seksual 1, penganiayaan 1, perebutan hak asuh anak 3, bullying 1, bawa lari anak 1, pencurian (ABH) 3 dan narkoba sedikitnya 3. Kelompok perempuan 17 dan anak 20 kasus.

“Akumulatif jumlah kasus dari 2016 sebanyak 69 kasus, 2017 sebanyak 35, 2018 mencapai 52, 2019 hingga 27 dan sebanyak 37 kasus pada tahun 2020,” terangnya

Menurutnya, dari kasus lima tahun terakhir itu memiliki jenis 19 kasus. Disebabkan berbagai macam faktor yang dialami.

“Kalau untuk anak-anak karena kurangnya pengawasan dari orang tua. Dan untuk perempuan kebanyakan efek dari pergaulan bebas dan pengaruh dari jejaring media sosial,” katanya

Dalam upaya meminimalisir kasus tersebut, pihaknya membentuk tim satuan tugas (Satgas) P2TP2A diberbagai desa sebagai fasilitasi perempuan dan anak.

“Tapi belum keseluruhan dibentuk. Hanya dibeberapa desa saja,” terangnya.(Tf022)

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *