Setiap Akhir Pekan, Puluhan Peselancar Taklukkan Ombak di Pantai Tapak Paderi Bengkulu Setiap Akhir Pekan, Puluhan Peselancar Taklukkan Ombak di Pantai Tapak Paderi Bengkulu
Gerbang Bengkulu – Jefrianto, salah seorang anggota komunitas surfing yang ada di Bengkulu menyatakan, setiap akhir pekan Dia bersama anggota komunitasnya berselancar di pantai... Setiap Akhir Pekan, Puluhan Peselancar Taklukkan Ombak di Pantai Tapak Paderi Bengkulu

Gerbang Bengkulu – Jefrianto, salah seorang anggota komunitas surfing yang ada di Bengkulu menyatakan, setiap akhir pekan Dia bersama anggota komunitasnya berselancar di pantai Tapak Paderi, Kota Bengkulu, Minggu 22 April 2018.

WhatsApp Image 2018-04-23 at 07.12.56

Pantai Tapak Paderi menjadi lokasi favorit bagi peselancar pemula, karena ombaknya relatif lebih tenang. Ditambah lagi dengan akses yang mudah dijangkau sehingga menarik minat peselancar luar daerah untuk mencoba ombak di Bengkulu. Hanya saja, grip pemecah ombak yang di buat justru dianggap membuat gelombang ombak tidak sempurna.

“Sebelum ada grib pemecah ombak yang di bangun 5 tahun lalu, kwalitas ombaknya sangat bagus. Setelah ada grib ombaknya landai,” ujarnya

Meski tidak sesuai untuk peselancar profesional, namun bagi pemula lokasi itu sangat sesuai untuk belajar bagaimana merasakan sensasi naik papan seluncur, lantaran ombaknya yang tidak terlalu besar.

Jef, panggilan akrab Jefriyanto menjelaskan, dirinya tergabung dalam komunitas selancar Bengkulu Rafflesia Surf Asossiation (Beraso) yang anggotanya tersebar di kota-kota besar di Indonesia.

“Setiap libur panjang teman-teman kita dari daerah lain, seperti dari Bali, Bandung, Surabaya dan Jakarta silih berganti datang ke Bengkulu untuk berselancar,” bebernya.

“Namun kalau yang profesional kami bermain surfingnya di Pantai Panjang, pantai Nibung Pondok Kelapo, dan di pantai Pulau Baai,” jelasnya.

Lewat komunitas itu pula, setiap akhir pekan Ia sering berinteraksi dengan wisatawan domestik dan mancanegara, acapkali dirinya diminta untuk menjadi pelatih bagi wisatawan itu.

“Kalau WNA Lumayan tarifnya, biasanya mereka membayar jasa kita pakai uang dolar,” jelasnya.

Salah satunya adalah WNA asal Belanda, Lorent (29) gadis berkulit putih yang disebutnya belajar surfing bersama komunitasnya di pantai Tapak Paderi sejak satu pekan lalu.

Untuk yang ingin gabung di komunitas dan belajar surfing, Jef mengaku bersedia berbagi tekhnik tanpa dibayar termasuk meminjamkan papan surfing miliknya.

“Syarat yang pertama harus dimiliki adalah berani dan memiliki nyali, urusan bisa berenang itu bagian kedua dan tak kalah penting adanya kemauan untuk belajar,” jelasnya. (azm009)

Admin 93

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *