Seni Rupa, Seniman: Jangan Sampai Hilang! Seni Rupa, Seniman: Jangan Sampai Hilang!
GerbangBengkulu – Tidak banyak seniman rupa di Kota Bengkulu yang terekspos ke media lokal. Salah satunya ialah Suganda, atau yang kerab disapa pak Aceng... Seni Rupa, Seniman: Jangan Sampai Hilang!

GerbangBengkulu – Tidak banyak seniman rupa di Kota Bengkulu yang terekspos ke media lokal. Salah satunya ialah Suganda, atau yang kerab disapa pak Aceng oleh anak didiknya.

Saat ditemui media pada acara pagelaran rupa di Taman Budaya, pria setengah abad yang ramah ini berbagi kisahnya di dunia seni rupa. Pria kelahiran tahun 1951 asal Cirebon ini sudah lama menetap di Bengkulu.

Ia menetap di Bengkulu sejak tahun 1883 dan menikahi gadis daerah Bengkulu yang akhirnya dikaruniai 3 anak. Pada saat itu, ia berwirausaha untuk meneruskan hidupnya. Pada tahun 1985 ia menjadi pegawai honor di Pemda kota bagian pertamanan. Kemudian di tahun 1987 ia diangkat menjadi PNS dan pegawai di KUA.

Ia menekuni seni rupa sejak tahun 2007 dikala tepat menuju waktu pensiunnya. Sebelumnya aktivitas rupa yang dilakukannya berawal dari jalan. Ukiran di taman – taman kota yang dimulai dari Simpang 5 hingga Padang Kemiling itu tak luput dari sentuhan indah kedua tangannya.

Terlahir dari orang tua yang merupakan pengrajin anyaman bambu membuatnya semakin cinta dengan seni rupa.

“Kalau seni itu hobby dan juga mengalir dari orang tua. Kebetulan tahun sekitar tahun 1973 sampai 1975 saya di Yogyakarta kursusnya. Pernah kuliah juga sampai tingkat 3,” kata pensiunan dinas pertamanan kota Bengkulu, Senin, 9 November 2015.

Jika kita ingin belajar banyak soal seni rupa terutama karya lukis, kita bisa menemui beliau di taman remaja dan tugu dekat View Tower. Disitulah ia dan komunitasnya bertengger untuk mengeksplorasi karya mereka.

Sebelumnya ia pernah membuat sanggar khusus seni rupa. Akan tetapi kesibukannya yang banyak, akhirnya komunitas berkesenian dengan berpindah – pindah tempat.

Ia sangat ingin mewariskan seni rupa kepada anak – anak, terutama anak didiknya di komunitas. Untuk itu, ia sering mengajarkan menggambar di TK Auladuna, TK Witri, SMP Al – Hasannah hingga membuat mural pun dijalankannya.

“Saya lagi cari generasi penerus. Harus mewariskan kepada anak – anak kita, sehingga jangan sampai hilang seni rupa ini,” ungkap Suganda, Senin, 9 November 2015.

Ia juga menambahkan, ada sense tersendiri saat melukis dan menggambar. Baginya hobby yang tersalurkan itu tidak membuatnya merasa penasaran. Tapi jika hobby itu tidak tersalurkan, ada ketidakpuasan batin yang mendalam. (010Mei)

redaksi 35

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *