Sajak-sajak Selendang Sulaiman Sajak-sajak Selendang Sulaiman
Angin, Rumah Pujangga 1) menatap diri di wajah tirus zaman kalabendu ragaku terpasung di jantung pohon bedaru anak-anak sekolah dasar mencoret wajahku dengan pensil... Sajak-sajak Selendang Sulaiman

Angin, Rumah Pujangga

1)
menatap diri di wajah tirus zaman kalabendu
ragaku terpasung di jantung pohon bedaru
anak-anak sekolah dasar mencoret wajahku
dengan pensil berlumut dan krayon penuh debu

nama-nama kawindra getir di pelepah pinang tujuh belasan
huruf-hurufnya dikuliti menjadi luka; duka bangsa durjana
betapa kekalahan sempurna di lapangan kemerdekaan
dengan lidah busuk bernyanyi lagu-lagu kebangsaan

tanah masih basah bersimbah darah
amisnya rekah dalam bait-bait dandanggula
dan aroma sejarah di cakrawala
menjelma bau pandan dan kamboja

wajah-wajah getir penyair muda
mengambang di pucuk-pucuk menara kuasa makna
mengawasi ruh-ruh keadilan di mata anak-anak papa
yang merindukan cinta di balik zaman kalatida

sesaklah nafasku oleh serbuan badai akali
dan gusar hatiku kasar mencakar raga mati suri
di samping puisi pembakar dirinya sendiri
dalam kesumat kramat: jiwaku abadi!

dengan sisa remah resah sang kawindra
kudongakkan wajah menantang zaman kalatida
angin pun membuka pintu-pintu dan jendelanya
untuk kumasuki sebagai rumah sejati di dunia

2)
abadilah kamu, abadilah di bilik nasib petani,
nelayan, dan janda-janda tua di pasar desa
sebab udara dan hutan habis disatroni
oleh penguasa berhati baja – dukana

teruslah mengaum, menyalak, menggonggong
teruskan gelegarmu yang halilintar
bangkitkanlah jiwa-jiwa pemberontakan
yang dipenjara di peti undang-undang dandapati

sungguh kubenarkan sinisnya bahasa perasaan
(jika bukan puisi aku bunuh diri di istana negara!)
dingin musim lindap di punggung dan dada
lantas kuruwat tabiatmu dengan ritual kejayaan

3)
mari kita bangun kastil-kastil kepercayaan atas takdir
dengan benteng-benteng nasib yang tersyukuri
di dalamnya kita akan bertani kedelai dan kecipir
sambil mendendangkan kinanti-kinanti suci

4)
tentu, tentu kita mengerti bahwa:
apabila puisi tak punya lidah bagi masyarakat
apa maknanya ikhtiar penyair mencipta-cipta
dan jika puisi tak mampu hidup di tempat-tempat peribadatan
dengan apa orang-orang membaca derita kemanusiaan
bahkan jika puisi lumpuh, buta, tuli dan bisu
bagaimana bisa pujangga ambil bagian di kehidupan
2012-2015

Napak Tilas
gunungan sampah di kepalaku
terbakar api di rambut Umbu
kobarnya melalap lubuk empedu
sukmaku hilang terberai seribu

sungguh kupikul serinjing buku
siang dan malam sambil berlagu
nadanya sumbang liriknya sendu
semaraklah pilu jiwa mudaku

buku kubaca tak khatam-khatam
di jalan lapang tanah mataram
sebab di hati abu menghitam
dan nalar kuasah tak tajam-tajam

sombongnya diri berlenggak-lenggok
berdendang lantang nyanyian nasib
hati terpaut pun batin tertohok
nyanyian cinta Emha Ainun Najib

berpeluk lutut hampir menangis
di alun-alun usai gerimis
orang-orang main massangin
diriku lemas tertubruk ingin

setapak kaki demi setapak
merayap ringkih di malioboro
tak ada nangka tak ada salak
untuk kumakan bersama coro
hadirlah sepi bertubi-tubi
serbu jantung dan serang nadi
rinduku pagut tak bisa lari
mengejar bayang-bayang belati

didih darahku bekulah sudah
tersekap erat udara hampa
hadirlah engkau pembawa berkah
si burung merak penuh gairah

kurangkul-rangkul, kudekap-dekap
cakap remang di pasar kembang
gairah dan cemas bertukar harap
melempar pandang sembunyi ranjang

burung-burung pagi memecah sunyi
gemanya nyaring menggedor nurani
itulah sajak anggitan Sapardi
berdengun panjang menyongsong hari

terumbu karang merah pualam
ikan dan udang pada bersarang
rasa ragu dan takut terdalam
lenyap hilang dalam gelombang

bunga di sebrang terlampau layu
padamlah harum penciumanku
kucing tak mau yang manis-manis
aku pun suka yang amis-amis

wajah mendongak menyorong takdir
di siang bolong kaki terkilir
langit bertabir gulita awan
buminya naung seremang ingatan

kini jiwaku terbanglah hilang
tercabik-cabik cakaran elang
kemana diri berlindung aman
bila segala hancur berantakan

kupasung renung di bukit kapur
supaya bingung lekas-lekas lipur
kupahat senyum di cakrawala
biar luka Tardji menjelma haha!

bibirku retak menghafal kecup
di bibir kasih bebunga kuncup
kekasih pergi menjelang maghrib
hidup terkubur berkalang aib

aku bertanya pada firasat
prasangka tajam mengerat siasat
lorong menikung mengungkung langkah
hampir ku kacau terhilang arah

teranglah peta kampung halaman
yang kubaca sepanjang jalan
kuperas santan parutan kelapa
durmanya Iman Budi Santosa

mataku nyalang ke pulau Madura
lewat napak tilas penyair Jogja
seluas pantai samudera hindia
memeluk gunug sepulau Jawa
2009-2015

Di Jembatan Neraka Rimbaud
(dalam diriku telah pudar
semua harapan kemanusiaan)
dan inilah wujud dandapati
spektakuler di dunia

mencintaimu berarti aku bunuh diri
sebab cinta telah melemparkanku
dari segala indera kemanusiaan
ke dasar neraka paling palung

benar hanya semusim
yang tak sepenuhnya aku bermukim
di mana para para penghuni neraka
mengusirku dengan celaan paling tega

kutemkan diriku tergeletak semusim
di altar batin (nerata) Arthur Rimbaud
sebab rumah angin telah murka
menendang setiap kepala bersyair ke nerakanya

kembali aku terlempar tampa ampun
tanpa sehelai kain iba apalagi cinta
terkaparlah aku telanjang sukma
di atas jembatan zaman kalatida

sulur api merambat ke cakrawala
melukis bentuk jahanna di badanku
lautan duka manusia di bidang dadaku
dan aura iblis di wajah dosa-dosaku
2012-2015

Tatacara Pembasmian
lidah penghasut melas dewan perampas
menjulur ke beton-beton pemodal penuh awas
dan engkau yang khidmad berhura-hura
terhempas ke lembah penyair  pejaja rupa

engkau masih pura-pura khusyuk memahami
bahasa bangsamu yang terpuruk di jagad khayali
terkoyak basa-basi iklan dan gosip di televisi
tak berdaya oleh undang-undang pemanis agitasi

serta propaganda pengusaha-penguasa
yang engkau sendiri diam-diam menjadi perantara
bagi penghancuran hukum adat – jiwa manusia

“zaman berubah, jangan diam dalam sejarah berlumut”
khotbahmu lembut manis pembasmi budaya air dan tanah
tuntunan hidup warisan Sanjaya dan Purnawarman
2013- 2016

Napak Tilas Kota Kaca
kilauan ibukota – kota kaca kian asin
sengatnya mencucuk kening
udara pesing mematahkan ranting
ranting jiwa anak-anak miskin

kemiskinan di luar dinding raksasa kapitalisme
menumbangkan pohon nurani di hati wakil rakyat
intrik politik berpacu – beradu cepat
dengan kereta listrik dan para pekerja (ter)paksa

mereka hilir mudik dalam bisu dan tuli
dengan wajah cemas memandang hari tua
mengenang tentram batin masa kanak

aduhai betapa, kemilau kebahagiaan di televisi
telah menyublim menjadi batu hitam prasangka
di hati dan otak orang-orang penghuni kota kaca
Jakarta-Yogyakarta, 2013-2016

Gadis Kecil Ibukota
sirine palang pintu perlintasan kerea api
melengkinkan irama degup jantungku
paru-paru meletup-letup persis nafas mas koki
yang menyendiri dalam akuarium mataku

ini tentang gadis kecil di bawah jembatan
di atasnya deru kendaraan menjeri-jerit
bersama peluit kereta yang memanjang
menerjang penuh sasar menghardik gadis malang

ya si gadis kecil, tengah bermain sendirian
mengisi plastik sampah dengan tanah beracun
ia tersenyum, mengikatnya dengan ikat rambutnya

kemudian, menuangkan tanah dari plastik
ke dalam gelas teh yang dipungut dari tong sampah
ia tersenyum lagi; aku tersedu dalam hati
5 Juni 2014

Candu 1
kutuang kopi kental panas ini
kutatap permukaannya
wajahmu ada, tersenyum manis
kurasakan zat rindunya
kutiup sekali desah
kuseduh sampai tuntas
birahi cium ini
08 Juni 2014

Candu 2
seduhan kedua; hangatnya sabtu malam
memeluk jiwaku, wajahmu susupi darah,
paru-paru, dan urat-urat hijau nadi
hadirmu, semayup udara segar di jantung

tunailah lidah sampai seduhan ketiga
pada seduhan keempat; genap sungguh buku rindu
tiap lembarnya kubaca benar, demi satu ide: kita
seperti kopi, terseduh setiap candu membisik

maka kubaca ulang, kubaca lagi,
sampai tak ada jarak walau seinci
antara aku dan kamu

kendati kita nyata sampai detak
(bukankah kita telah saling percaya pula
bahwa sesekali kita tidak dapat dipercaya?)
09 Juni 2014

*Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa seperti; Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Indopos, Suara karya, Minggu Pagi, Riau Pos, Merapi, Padang Ekspres, Lampung Post, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Sarbi, Jurnal Sastra Santarang dll. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), dlsb. Hp :085292515914

gerbang 86