Sajak-Sajak Ghoz TE Sajak-Sajak Ghoz TE
JARAK ANTARA LAUT DAN PULAUMU : Rindu Kepada Ibu I Ibu, aku ingin segera mendarat di pulaumu sehabis laut mengirim gelombang dan sebelum pasang... Sajak-Sajak Ghoz TE

JARAK ANTARA LAUT DAN PULAUMU

: Rindu Kepada Ibu

I

Ibu, aku ingin segera mendarat di pulaumu sehabis laut mengirim gelombang dan sebelum pasang benar-benar menerjang. Ada yang bergerak perlahan menyeret perahu jauh. Lama layarku sobek ditembus bulan dicabik ikanikan lapar. Yang diapungkan jadi lampau dan yang hanyut tak kembali akan biarkan ia memilih jalan pulang sendiri.Bukankah cinta hanya persoalan resiko  kesakitan semata,bu? Dan kau masih berusaha menjahit layarku bukan? Kau seprti ibu pada umunya, suka naik darah. tak suka dibantah. tetapi senantiasa menekankan perasaan ketimbang pikiran-pikiran.

II

Jarak antara laut dan pulaumu itu, rinduku.

III

Ibu, bila aku pulang dan tiba dihalaman pertama hatimu, seketika aku  ingin menjelma bocah kecil lagi, sebab jarak antara laut dan pulaumu dipisahkan gelombang badai yang mengancam usia. Ibu, aku rindu padamu. Dan aku hanya mengakrapimu dari jauh sekali. Kadang ingatan padamu membikin cemas dari celah kecil bola mataku. Tapi ibu selalu dengan seiris senyum. Kau tak pernah getir. Teguh. Seperti kesetiaanmu pada kebaya sederhana bergaris biru laut. Barangkali perempuan punya hati sedalam laut dan perasaan yang rumit. Ah, ibu selalu mengirim kabar pada angin yang datang padaku. Aku pun sampai kehatimu sebelum laut menggirim senja angslup di dadaku.

IV

Jarak antara laut dan pulaumu adalah riak mengelembungkan cemas. Dengan segumpal penuh pasrah pula kau lepas pada surut laut, agar aku lebih menghargai hidup, tumbuh jadi karang.

Kampung halaman seasin ingatan pada perempuan tua diujung kepulangan. Ingin segera aku melompat sebelum perahuku merapat. Ibu, aku pulang tanpa membawa apa-apa, juga harapan.

 

BAGIAN DARI MIMPI

selamat pagi, cintaku

matahari menguning

mimpi basah semalam

bikin sendiri jalannya

—-pagi pagi berlari

berjingkrak jingkrak

nyanyian riang burung

di rerenting pohon pohon

menggiringi batin yang basah

dan burungku dalam sarung

hendak berlari dari sangkarnya

selamat pagi, sayang

antara selimut tebal

dan rinduku yang rimbun

padamu aku ingin pulangkan peluk

semalam diam diam kita tidur berdua

dalam sebuah mimpi kuyup

ini mimpi anak baru puber

tapi di leher bekas gigitanmu

memerah. burungku lepas

entah hinggap di mana

—bagi yang menangkapnya

tolong kembalikanlah burung

kecil itu padaku!

 

DI ANTARA AMBANG

Setelah tiga puluh satu tahun ambang sejarah, kita berada dalam lanskap usia peradaban . Mencatat potongan dari lembaran senja. Mega-mega tua kehilangan warna merahnya. Menyusut dan menepi lumpuh dari selaksa keperkasaannya.

Aku membaca dengan tekun ketika kau merentangkan kepak yang menggelembung. Justru aku semakin terjebak kenyataan yang dibebankan di punggungku. Nyaris menyeret, terlempar siklus dan keremukan yang di katubkan di dinding luar jendela. Sungguh, antara sejengkal kelahiran dan kematian kita mesti merayakannya, sayang. Sebab bukan maut yang terlalu menegangkan, tetapi memperpanjang usia dengan sedikit letupan dupa. Dengan sisa tenaga.

Ini bukan persoalan bagaimana kau bertahan, dari detakan usia panjang. Perjalanan masih jauh, ke depan kita sebagai petaruh dari langit-langit runtuh. Di anatara ambang aku mengambang dan berenang-renang.

_menepi atau mati kemudian.

 

SENJA SEHABIS HUJAN

Sehabis hujan senja itu, dingin tanggal dari daun merapatkan rindu

Gerimis meretas dari matamu mematuk ingatan pada kotamu yang senggang

berpeluk angin

Dari belokan panjang menuju ihwal perjalanan, langit melipat awan

Angin mengibas sepi dari retakan gugur daun, gemetar  musim dalam kenangan

Sementara detak jam semakin dalam menikam bongkahan waktu. Aku hanya

bersedekap angan

Bila jauh itu adalah jarak antara rindu, sayang

Biarlah tikungan tajam aku ziarahi, memeluk sepi di dada kotamu yang abadi

Masikah sepenggal rindu kau kekalkan pada jantungmu, katamu

Percayalah, masih kurengkuh kesaksian hujan di atas daun gigil , atau sebatang

Sepi  yang mencatat ribuan teluk di matamu. Dingin pasang barangkali prasangka

Derai hujan yang tak pernah ingkar pada langit. Begitu juga dentang ingatan

Mengantar kerinduan sampai pada alamat yang kelam.

*Ghoz TE, Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat ini masih aktif berproses di Teater ESKA Yogyakarta

gerbang 86

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *