Pemuliaan Perpustakaan Terhadap Ragam Karya Multiliterasi Pemuliaan Perpustakaan Terhadap Ragam Karya Multiliterasi
Oleh: Wahyu Rizkiawan Dalam perhelatan World Book Day 2020 bertajuk Indonesia Online Festival ke-22 (30/4/2020), perpustakaan diperbincangkan untuk kembali dimuliakan, tempat yang disukai Vargas... Pemuliaan Perpustakaan Terhadap Ragam Karya Multiliterasi

Oleh: Wahyu Rizkiawan

Dalam perhelatan World Book Day 2020 bertajuk Indonesia Online Festival ke-22 (30/4/2020), perpustakaan diperbincangkan untuk kembali dimuliakan, tempat yang disukai Vargas Llosa dan Luis Borges itu dibahas dan diperbincangkan, dengan tema Perpustakaan dan Pengembangan Penerbitan Digital (E-Publishing) Berbasis Komunitas.

Farli Elnumeri—Pustakawan, Pengajar, dan Pegiat Literasi—narasumber pada diskusi daring pagi itu, ia memaparkan bahwa negara telah mengatur dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2017. Dijelaskan pada pasal 1, bahwa buku adalah karya tulis dan/atau karya gambar yang diterbitkan berupa cetakan berjilid atau berupa publikasi elektronik yang diterbitkan secara tidak berkala; pada pasal 5, buku elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan karya tulis yang berupa teks, gambar, audio, video, atau gabungan dari keseluruhannya yang dipublikasikan dalam bentuk elektronik; dan pasal 12: Pelaku perbukuan terdiri atas Penulis, Penerjemah, Penyadur, Editor, Desainer, Ilustrator, Pencetak, Pengembang Buku Elektronik, Penerbit, dan Toko Buku.

Di Perpustakaan British Library, Mario Vargas Llosa menghabiskan empat hingga lima sore dalam seminggu, sepanjang seluruh waktu dia berada di London yang lebih dari tiga dekade itu.

Di tempat yang Vargas Llosa sebut sebagai “ruang persembunyian” itu, dia merasa sangat bahagia. Lebih bahagia dari tempat mana pun di dunia ini.

“Di ruang inilah, saya berkhayal dan bermimpi bersama penyair-penyair besar, para penganyam mantra yang hebat, serta begawan-begawan fiksi,” kata Llosa dalam esainya, Epitaf untuk Sebuah Perpustakaan.

Kekaguman Vargas Llosa pada perpustakaan, mungkin tak sepopuler kekaguman Jorge Luis Borges pada perpustakaan yang sering dikutip di banyak tulisan; bahwa surga adalah sebuah kampung yang di dalamnya terdapat perpustakaan.

Tapi, baik Llosa maupun Borges sama-sama menyukai perpustakaan. Sama-sama betah berlama-lama di perpustakaan.

Apa yang membuat perpustakaan begitu menyenangkan dan menenangkan bagi Vargas Llosa maupun Luis Borges, harusnya membuat kita merasakan perihal yang sama. Tapi kenyataannya, yang terjadi tidak demikian. Atau belum demikian.

Meski tak secara total membahas perpustakaan, setidaknya bertema Perpustakaan dan Pengembangan Penerbitan Digital (e-publishing) Berbasis Komunitas.

Dalam video live streaming yang bisa disaksikan di Chanel YouTube Perkumpulan Literasi Indonesia, terlihat Wien Muldian menunjukkan sebuah buku berjudul Matching Book and Readers karya Nancy L. Hadaway dan Terrel A. Young.

“Mental (pegawai) perpustakaan harus seperti ini,” kata Muldian.

Mental atau ideologi yang dimaksud Muldian, adalah kapasitas untuk mempertemukan buku pada pembaca. Perpustakaan bukan sekadar menaruh buku, lalu membiarkan debu berumah di tiap lembarannya. Melainkan memicu peristiwa agar buku bertemu pembaca.

Merawat buku dan membangun peristiwa melalui buku, bukan pekerjaan yang mudah. Seperti dilakukan Carlos Brauer dan Delgado yang begitu menggilai buku hingga seluruh rumahnya dipenuhi buku — dalam novela Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez.

Brauer, misalnya, memiliki 20 ribu buku yang tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai hingga plafon. Selain dalam lemari buku-bukunya juga bertumpukan di dapur, kamar mandi, kamar tidur, di anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya. Dan uniknya, dia mampu menata sesuai kategori yang detil.

Dalam konteks yang lebih realistis, perpustakaan — secara umum— dikenal sebagai rumah buku. Perpustakaan ibarat masjid bagi jamaah pegiat literasi. Berbicara tentang literasi atau melabeli diri sebagai pegiat literasi, sudah sepatutnya berdekatan dengan perpustakaan.

Meski di tengah kemajuan zaman, perpustakaan tak sekadar bentuk bangunan. Tapi bisa dilipat dan dimasukkan di dalam saku jaket (digital). Seperti yang dijelaskan narasumber pada diskusi ke-22, Farli Elnumeri. Farli yang seorang pengajar dan pustakawan, sangat tepat membahas perihal perpustakaan.

Sebab di Indonesia, perpustakaan masih lekat dengan lembaga pendidikan atau sekolah. Yang sialnya, perpustakaan di dalam lembaga pendidikan, nasibnya selalu sunyi. Sebab masih banyak perpustakaan yang sekadar berisi buku, tapi minim perjumpaan pembaca,

Di lain sisi, belum banyak perpustakaan non lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Meski status ini, rentan berubah. Sebab, kehadiran komunitas dan pegiat literasi juga selalu dibonceng adanya perpustakaan dengan bentuk yang tentu saja tak selalu sama. Keberadaan Pustaka Bergerak, misalnya, menunjukkan betapa perpustakaan tak selalu berbentuk bangunan.

Farli bercerita soal potensi perpustakaan dalam pengembangan penerbitan buku. Perpustakaan, kata Farli, memfasilitasi sistem informasi tentang buku. Terutama di Perpusnas dan perpus perguruan tinggi. Cuma, untuk perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah agak sulit.

“Konsep perpustakaan umum saat ini tidak sekadar datang dan pinjam. Tapi berkumpul dan bertemu antarkomunitas, belajar bersama,” ucap Farli dalam penjelasannya.

Namun memang, kenyataan di lapangan, masih sulit sistem perpustakaan semacam itu berjalan di daerah-daerah. Perpustakaan di daerah, atau di sekolah-sekolah yang berada di daerah, masih berjalan secara konvensional. Hanya tempat meminjamkan buku, itupun kalau ada yang pinjam.

Dari data dikutip GNFI, perpustakaan nasional Indonesia ditetapkan sebagai top leader secara jumlah. Jumlah perpustakaan di Indonesia (per 2019) sebanyak 164.610. Sedangkan urutan pertama ditempati oleh India, sebanyak 323.605 perpustakaan. Di urutan ketiga adalah Rusia, dengan 113.440 perpustakaan dan 105.831 perpustakaan di China.
Dari data tersebut, diketahui jika jumlah perpustakaan Indonesia berada di atas Rusia dan Cina. Tapi, minat baca di Indonesia justru masih jauh di bawah dua negara tersebut. Lalu, apa masalahnya? Bisa jadi, perpustakaan hanya tempat yang tercatat. Belum jadi tempat yang memicu peristiwa literasi.
Tapi setidaknya, untuk menjadikan masyarakat Indonesia sebagai warga pembaca, sesungguhnya sudah memiliki modal kuat. Jika memang data di atas benar-benar ada. Tugas pegiat literasi dan para pustakawan adalah membuat perpustakaan tak hanya tempat berkumpulnya buku. Tapi juga tempat berkumpulnya pemikiran dan kegiatan berbasis buku.
Tak ada yang tahu nasib perpustakaan ke depan. Tapi, dari perbincangan yang berlangsung pada World Book Day 2020 bertajuk Indonesia Online Festival ke-22, kita wajib merasa optimistis jika kelak, perpustakaan di Indonesa akan dimuliakan masyarakat dan para pembaca. Meski sebelum mencapai momen tersebut, perpustakaan harus bisa membuka diri dengan kegiatan yang menyenangkan.

Wien Muldian mengusulkan agar pengembangan konten, semisal Panggung Harjo, Bantul, mereka menerbitkan buku. Sleman yang pernah menjadi juara nasional, tidak sekadar menerbitkan buku. Perpustakaan tidak sekadar menerbitkan barang cetak, tetapi produk-produk atau karya multiliterasi; entah karya musik dan film (audiovisual), menjadi kekaayaan intelektual. Contoh lain, perpustakaan padang panjang, sebuah koleksi Minangkabau yang tidak dalam bentuk buku, tetapi sebuah bentuk lain.

Seperti yang dicatat Gaze Resai, pemirsa maya yang ia tulis pada chat youtube PLI, bahwa yang diterbitkan tidak hanya buku, selain cetak, bisa audio, atau audiovisual, dll. Perpustakaan bisa mengembangkan koleksi lokal untuk diterbitkan, perpustakaan mengikuti prosesnya, “Menuliskan kearifan lokal yang baik dan mereview apa yang sudah dilakukan. Tugas kita sebagai pendamping perpustakaan, memastikan tulisannya dapat terbaca dengan baik,” lanjut peserta tersebut.

*Pustakawan dan Pendamping Belajar

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *