Pascasarjana Filsafat IAIN Bengkulu Bedah Bahaya Post Truth dan Tantangan Era Millenial Pascasarjana Filsafat IAIN Bengkulu Bedah Bahaya Post Truth dan Tantangan Era Millenial
GerbangBengkulu-Di era post truth kebenaran menjadi relatif bahkan kehilangan keotentikannya, setiap orang merasa bahwa pendapatnya yang paling benar dari pada fakta objektif. Hal ini... Pascasarjana Filsafat IAIN Bengkulu Bedah Bahaya Post Truth dan Tantangan Era Millenial

GerbangBengkulu-Di era post truth kebenaran menjadi relatif bahkan kehilangan keotentikannya, setiap orang merasa bahwa pendapatnya yang paling benar dari pada fakta objektif. Hal ini ditegaskan Dr. Robby H. Abror, dosen Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat menjadi pemateri dalam Seminar Nasional bertema “Menggugat Post Truth dalam Komunikasi Politik dan Diskursus Keagamaan” di Auditorium Pascasarjana IAIN Bengkulu, Sabtu, (1/12/2018).

2“Hari ini, setiap orang dapat dengan mudah mempublikasikan pendapatnya sendiri sesuai dengan keinginannya, tafsirnya, opininya sendiri dan bebas untuk tidak mengindahkan fakta apapun. Jadi, setiap orang merasa bahwa pendapatnyalah yang paling benar, sehingga ia menyangka bahwa itulah kebenaran yang sesungguhnya, padahal itu jelas bukan fakta. Sebab ia mengabaikan fakta objektif,” tegas Robby.

Implikasi post truth bagi komunikasi politik dan diskursus keagamaan, lanjut Robby, masyarakat semakin individual dalam lingkup sosialnya yang semakin sempit.

“Sekarang setiap orang dapat memanipulasi kebenaran menurut opininya sendiri dan menebar signal sejauh mungkin untuk menjaring sanjungan dan puji-puji untuk meligitimasi opininya. Saya menyebut era post-truth sebagai era mitos baru atau kebenaran hanyalah mitos belaka,” tambah Robby yang juga Kajur Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

3Dalam era post-truth, menurut Robby, hedonisme pada produksi opini tak dapat disangkal, orang lebih suka menyebarkan berita yang belum diverifikasi kebenarannya.

“Media sosial menjadi wahana yang paling praktis bagi terselenggaranya aktivitas komunikasi politik dan diskursus keagamaan yang masif, perebutan wacana dan perang opini. Agama yang mestinya diinternalisasikan dalam diri, telah dikomodifikasikan dalam ruang publik secara telanjang. Sehingga pribadi-pribadi religius tak lagi sadar bagaimana membedakan kebenaran agama dan agamaisasi kebenaran. Agama jadi profan, tak lagi sakral, sebab setiap orang bisa menjadi pabrik opini untuk mengkontruksi kebenaran agama menurut seleranya,” pungkas Robby.

Senada dengan Robby, Direktur Pascasarjana IAIN Bengkulu, Prof. Rohimin menegaskan, di era post truth ini, masyarakat agar bijak merespon kehidupan keberagamaan.

“Tiingkat sakralitas kehidupan beragama, tergantung rasionalitas seseoarang dalam beragama, agama bisa menjadi sumber konflik dan agama bisa menjadi pemersatu, tergantung bagaimana mengkomunikasikan agama itu, dengan mempertimbangkan mana yang sakral mana yang profan,” ujar Rohimin.

Acara digelar Pascasarjana IAIN Bengkulu bekerjasama dengan Serikat Media Ciber Indonesia (SMSI) ini, untuk merespon problem sosial dan keagamaan yang sering terjadi di Indonesia. Kampus IAIN, khususnya pascasarjana Filsafat ingin memberikan kontribusi nyata dan sumbangsih pemikiran dalam menjawab tantangan di era post truth.

“Tindak lanjut dari kegiatan ini, kami akan teru melakukan kajian mendalam termasuk penelitian bersama dengan beberapa kampus, khususnya kampus UIN Sunan Kalijaga. Hal ini juga untuk memperkenalkan kepada masyarakat, bahwa pascasarjana Filsafat IAIN Bengkulu juga memiliki kepedulian terhadap problem-problem kebangsaan,” ujar Ka. Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Pascasarjana IAIN Bengkulu, Dr. Nelly Marhayati.

Selain Seminar Nasional, dalam kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU, antara Program Studi Filsafat IAIN Bengkulu dengan Program Studi Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Azm-009)

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *