Panku Paleare, Kearifan Lokal Masyarakat Semande Panku Paleare, Kearifan Lokal Masyarakat Semande
Masyarakat semende yang berada wilayah adat Semende Desa Banding Agung, Kabupaten Kaur setiap tahun, tepatnya pada tanggal 10 Muharam, rutin mengadakan upacara ritual adat... Panku Paleare, Kearifan Lokal Masyarakat Semande

Masyarakat semende yang berada wilayah adat Semende Desa Banding Agung, Kabupaten Kaur setiap tahun, tepatnya pada tanggal 10 Muharam, rutin mengadakan upacara ritual adat yang dikenal dengan nama Pangku Paleare.

Pangku Paleare biasa dilaksanakan masyarakat adat Semende, desa Banding Agung Kabupaten Kaur. Ritual ini dilaksanakan dengan maksud untuk tolak bala dan memanjatkan do’a pada Tuhan agar memperoleh keselamatan, dan diberi rejeki yang baik.

Pangku Paleare dilaksanakan di balai adat, yaitu pendopo sederhana terbuat dari kayu. Balai adat di Banding Agung ini baru saja dibangun kembali, setelah mengalami musibah kebakaran pada tahun 2013 lalu. Ihwal kebakaran itu bermula dari kerusuhan yang terjadi di Banding Agung, karena masyarakat adat Semende yang sudah bertahun-tahun tinggal di wilayah yang termasuk Taman Nasional Kerinci Semblat (TNKS), dituduh sebagai perambah hutan. Akhirnya muncul konflik yang berbuntut pada kerusuhan hingga Balai Agung terbakar.

“Pangku Paleare, dilaksanakan bertepatan saat masa cocok tanam atau 10 Muharram tahun Hijriyah, upacara ritual ini sudah dilakukan dari sejak kakek buyut dahulu dan hingga saat ini masih rutin dilakukan setiap tahun” ungkap salah satu warga adat Semende.

Menurut siharman salah satu warga adat Semende, Pelaksanaan Pangku Paleare ini dipimpin langsung oleh ketua adat Semende, Kamris. Ritual dimulai dengan prosesi ketua adat menjampi (memberi doa) air dalam sebuah wadah yang berisi air dicampur Jeruk, Jahe, kemenyan, banglai, cikur, Jihangau dan lain-lain.

Prosesi dilanjutkan dengan berdoa menurut agama Islam, dimulai dengan tawassul berlanjut dengan doa dan beberapa bacaan ayat suci Al-Quran, kemudian doa penutup yang dipandu oleh salah satu tetua adat.

Air dalam wadah yang sudah diberi doa ini, oleh masyarakat adat Semende disebut dengan istilah air tolak balak. Air tolak balak ini kemudian dibagikan kepada seluruh warga. Oleh warga, air tolak balak dipercaya mampu menyembuhkan penyakit, dan menjauhkan dari segala gangguan.

Sajian yang disediakan dalam acara Pangku Paleare ini ada berbagai macam jenis makanan khas adat Semende, salah satunya Lemang dan Surabi. Hal yang unik dari pelaksanaan ritual adat ini, selain penampilan tari Kuntau (Tarian bela diri asal adat Semende), adalah jumlah Lemang yang disajikan. Jumlah Lemang yang disajikan disesuaikan dengan jumlah warga dalam lingkungan masyarakat adat Semende, termasuk bayi yang baru lahir pun sudah masuk dalam hitungan. Maksud dari jumlah lemang ini ialah untuk mempermudah masyarakat adat melakukan pendataan warganya. Dengan demikian, tiap tahun akan dapat diketahui berapa jumlah warga masyarakat adat Semende.

Acara ditutup dengan makan bersama seluruh peserta yang hadir. Berbagai macam jenis makanan khas adat Semende yang disajikan langsung disantap bersama-sama.

admin

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *