Nyala Mimpi Perpustakaan Nyala Mimpi Perpustakaan
Oleh: JoanaZettira* Masa depan adalah milik mereka yang percaya akan keindahan mimpinya – Eleanor Roosevelt. Pertanyaannya di balik, bagaimana kemudian sebagian saudara kita harus... Nyala Mimpi Perpustakaan

Oleh: JoanaZettira*

Masa depan adalah milik mereka yang percaya akan keindahan mimpinya
– Eleanor Roosevelt.

Pertanyaannya di balik, bagaimana kemudian sebagian saudara kita harus mempercayai keindahan mimpi? Ketika mimpinya harus kandas, bersamaan dengan pendidikannya yang tak tuntas. Sebagian dari mereka harus berdamai dengan mimpinya sendiri. Mencoba “nrimo” dan pasrah mengikuti aliran air ke mana ia akan membawa diri.

Realitas ini menjadi hal yang masih kita temui hari ini. Joko Santoso, Kepala Biro Perencanaan Perpustakaan Nasional menyebutkan, data Susenas menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia menamatkan pendidikannya hingga jenjang Sekolah Dasar. Tak main main, angkanya hampir separuh dari total penduduk, yakni 47%. Angka ini cukup besar dan menjadi PR yang besar pula. Bagaimana semua pihak, utamanya pemerintah, dapat memastikan angkatan kerja lulusan Sekolah Dasar ini mampu bersaing dengan lulusan jenjang lainnya. Baik itu SMP, SMA, maupun mereka yang berhasil mengenyam bangku sarjana.

Pendidikan seolah menjadi barang mahal, yang hanya bisa diakses oleh kalangan dengan dengan dompet tebal. Meski kini, telah banyak berseliweran beasiswa untuk mengenyam pendidikan lanjutan. Pendidikan formal masih menjadi primadona dan seolah satu satunya jalan mengakses pengetahuan. Padahal, telah lahir sebuah alternatif bagi masyarakat untuk mengakses pembelajaran dengan jalan non formal. Kelahiran itu bernama: perpustakaan.

Dikatakan Joko, perpustakaan berupaya memberikan seluas luas harapan bahwa masyarakat masih bisa mengupdate pengetahuan, memutakhirkan keterampilan dan mengoptimalkan potensinya melalui perpustakaan. Perpustakaan adalah bagian dari gerakan sosial. Selama ini, barangkali kita luput menyadari. Bahwa gerakan sosial tidak melulu soal respon terhadap kenaikan harga bahan pokok, isu isu agraria, HAM, dan korporasi. Gerakan sosial lebih luas dari yang kita bayangkan. Menyangkut aksi progresif yang diwujudkan untuk kemaslahatan masyarakat dengan wujud yang sangat beragam. Dan menyangkut hajat hidup banyak orang.

Dalam diskusi yang berlangsung (Kamis, 23/4/2020) secara daring, perpustakaan dikupas secara mendalam tentang keterlibatannya dalam isu-isu pembangunan sumber daya manusia jangka panjang. Diskusi yang dimoderatori oleh Wien Muldian ini dilaksanakan sebagai rangkaian dari peringatan World Book Day 2020. Topik ini menjadi krusial mengingat arahan presiden yang terus mengelukan “Indonesia maju, SDM unggul”. Mencipta SDM unggul tidak bisa serta merta dan instan. Kita tidak sedang hidup dalam era Roro Jonggrang yang bisa melakukan apa pun cukup dengan satu malam. Butuh sinergitas antar banyak pihak. Salah satunya dengan keberadaan perpustakaan.

Perpustakaan hari ini tidak bisa berpangku tangan pada koleksi. Lebih dari itu, perpustakaan perlu menganalisis kebutuhan masyarakat sekitarnya. Salah satu peserta diskusi dari Agam Bukittnggi, Sry Eka Handayani menambahkan, ia memelopori rumah baca di daerahnya dan memberikan pelatihan peningkatan keterampilan bagi ibu-ibu sekitar. Hal itu sejalan dengan 3 arah pengembangan perpustakaan yang disampaikan Joko. Perpustakaan harus menjadi 1) pusat ilmu pengetahuan, 2) pusat pemberdayaan masyarakat, dan 3) pusat pemajuan kebudayaan.

Jika perpustakaan selesai pada tanggungjawab menyediakan koleksi, maka aspek pemberdayaan belum terpenuhi. Literasi masyarakat mesti didorong tidak hanya secara kognitif tapi juga produktif. Perlu program program praktis yang mampu membekali masyarakat untuk berkarya minimal bagi dirinya sendiri. Literasi pada akhirnya mesti menghidupi, memberi kecakapan pada masyarakat untuk berdaya dan mampu memperpanjang hidup.

Gerakan sosial literasi, tidak bisa berjalan sendiri. Dikatakan Nia Yuniawati, salah satu peserta diskusi misalnya, ia bermitra dengan lembaga filantropi. Kerja sama yang luas adalah kunci keberhasilan dari gerakan literasi. Disambung Joko, perpustakaan mesti mengerti kebijakan apa saja yang menaunginya. Perpustakaan mendapat sokongan juga dari Kementerian Desa dan Kemendagri tentang pengadaan perpustakaan umum di tingkat desa. Salah satu prioritas dana desa, dialokasikan untuk perpustakaan desa. Meski hari ini dari 74.910 desa di Indonesia, baru 30% yang memiliki perpustakaan. Masih ada 70% yang belum tergarap dengan maksimal.

Selain memahami kebijakan terkait, kemitraan dengan sektor swasta juga perlu dilakukan. Sektor swasta, melalui CSR memiliki anggaran untuk bakti perusahaan kepada masyarakat. Jika kita bisa menghimpun kolektivitas, niscaya akan ada banyak perusahaan yang bisa dilobi untuk memberikan kontribusinya bagi gerakan literasi. Sebab pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Perusahaan perlu menyadari tanggung jawab sosialnya. Jangan sampai terjadi ketimpangan sosial.

Yang tak kalah penting dari gerakan sosial ini adalah spirit inklusivitas. Perpustakaan umum berupaya memberikan ruang terbuka bagi siapa pun untuk turut mengambil manfaat. Ia berbeda dengan perpustakaan sekolah yang aksesnya hanya untuk warga sekolah. Perpustakaan umum tidak memberikan prasyarat apa pun, selagi ada keinginan, maka pintu perpustakaan selalu terbuka dengan lebar.

Bahkan dalam kondisi yang kurang ideal, katakanlah masa pandemi ini. Perpustakaan umum mencoba beradaptasi untuk tetap memberi layanan. Baik itu tanya pustakawan, ataupun penyediaan buku digital. Tentu belum semua perpustakaan memiliki layanan digital ini. Tapi kita perlu apresiasi terhadap mitra perpus lainnya seperti Taman Bacaan dan Rumah Baca miliki perseorangan ataupun komunitas yang tetap menyupplai konten kepada masyarakat.

Konten dengan beragam topik sengaja diunggah ke laman media sosial. Dengan tujuan memberikan edukasi tentang pandemi sebagai respon terhadas konteks yang tengah terjadi. Peran perpustakaan dan taman baca di masa pandemi tak lagi menyediakan koleksi, tapi lebih jauh lagi memberi informasi terkini dengan cara-cara kreatif. Perpustakaan tak mati gaya. Terus berkreasi dan menginspirasi.

Eleanor Roosevelt benar. Masa depan memang berawal dari mereka yang percaya pada keindahan mimpi. Jangan sampai, masyarakat kita putus asa dalam bermimpi. Adalah tugas perpustakaan dan kita bersama untuk menjaga mimpi-mimpi itu tetap menyala. Melalui gerakan sosial bernama: literasi.

*Pegiat Literasi dan Duta Museum DI Yogyakarta

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *