Meninggal di Daerah Terpencil, ini Perjuangan Keluarga Membawa Jasad Sapurudin Meninggal di Daerah Terpencil, ini Perjuangan Keluarga Membawa Jasad Sapurudin
GerbangBengkulu – Kisah meninggalnya Sapurudin 53 tahun, petani kopi yang berkebun di daerah Air Pelubang, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma menguak perjuangan para petani... Meninggal di Daerah Terpencil, ini Perjuangan Keluarga Membawa Jasad Sapurudin

GerbangBengkulu – Kisah meninggalnya Sapurudin 53 tahun, petani kopi yang berkebun di daerah Air Pelubang, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma menguak perjuangan para petani kopi dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sapurudin disebutkan oleh tetangga kebunnya berasal dari Desa Muara Pulutan, Kecamatan Seginim, Kabupaten Bengkulu Selatan.

“Korban meninggal mendadak pada Senin pagi,” jelas datuk Salikin, tetangga kebun almarhum.

Meski informasi meninggalnya almarhum segera sampai ke pihak keluarga, namun persoalan untuk membawa jasad korban dari lokasi kebun ke jalan yang dapat diakses kendaraan membutuhkan waktu tempuh selama 3,5 jam perjalanan.

“Jenazah korban ditandu untuk sampai ke lokasi Simpang Pak Duk, tempat dimana dapat diakses kendaraan roda empat,” jelasnya.

Sejak pagi hari, para tetangga korban tak kunjung memperoleh kejelasan tentang bagaimana membawa jasad korban dari lokasi simpang Pak Duk untuk membawa pulang jenazah korban ke daerah asalnya.

Pasalnya, hanya kendaraan dobel gardan yang dapat menjangkau hingga ke simpang Pak Duk.

Sore hari sekira pukul 16.30 jenazah korban akhirnya sampai di Desa Dusun Tengah setelah dibawa oleh mobil Mitsubishi Strada Triton. Jenazah kemudian dipindahkan ke mobil ambulan yang dibawa oleh pihak keluarga dari Bengkulu Selatan.

Atas peristiwa tersebut, Kapolres Seluma AKBP I Nyoman Mertha Dana melalui Kapolsek Sukaraja Iptu Noviaska menjelaskan, masalah mis komunikasi yang menjadi penyebab tertundanya evakuasi jenazah dari simpang Pak Duk.

“Kita memperoleh informasi sekira pukul 15.00 WIB, kemudian anggota langsung meluncur ke tempat kejadian. Namun sesampainya di Desa Dusun Tengah, diperoleh informasi jika jenazah sudah dibawa mobil yang mengantarkan belanjaan ke dalam,” ungkap Noviaska.

Anggota kemudian menunggu di Dusun Dengah. Sekira pukul 16.30 mobil yang membawa jenazah sampai di lokasi dimana mobil ambulan menunggu.

Diakuinya untuk mencapai simpang Pak Duk hanya mobil dobel gardan atau 4 WD yang dapat menembusnya.

“Kalau dari pagi kita memeperoleh informasi, tentu jenazah korban akan bisa segera dievakuasi,” ungkapnya.

Berdasarkan pemeriksaan para saksi, diduga kuat penyebab kematian korban karena masuk angin duduk.

“Korban sebelumnya masih bekerja di kebun, kemudian minta kerik dan akhirnya meninggal dunia,” tandas Noviaska.

Dari simpang Pak Duk sampai ke Desa Dusun Tengah harus ditempuh dengan 2 jam perjalanan dengan kendaraan dobel gardan.

Sebagai informasi, untuk jaringan telekomunikasi para petani kopi di daerah tersebut biasanya mencari titik lokasi dimana sinyal telepon diperoleh. Kemudian mengabarkan kondisi keluarga yang sedang berkebun, keluarga di daerah tidak dapat menghubungi mereka, namun apabila terjadi sesuatu hal mereka yang akan mengabarkan kondisinya. (azm009)

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *