Menguak Misteri Meriam dan Makam Keramat di Tepi Sungai Sindur Sukaraja Menguak Misteri Meriam dan Makam Keramat di Tepi Sungai Sindur Sukaraja
GerbangBengkulu – Keberadaan sebuah meriam dengan sejumlah makam tua di tepi sungai Sindur, di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma menyisakan sejumlah misteri yang... Menguak Misteri Meriam dan Makam Keramat di Tepi Sungai Sindur Sukaraja

GerbangBengkulu – Keberadaan sebuah meriam dengan sejumlah makam tua di tepi sungai Sindur, di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma menyisakan sejumlah misteri yang belum terkuak hingga sekarang, Jumat 8 Februari 2019.

Berdasarkan penuturan Ali Brahmada, yang mengaku sebagai ahli waris dari makam tersebut, lokasi itu dikenal sebagai tempat pemakaman leluhur dari warga dari Desa Talang Alai, Lubuk Sahung, dengan Kelurahan Sukaraja.

IMG-20190208-WA0021

“Tahun 1982 ketika PTPN 23 (Sekarang PTP Nusantara 7 Unit Usaha PAWI) ketika melakukan pembukaan badan jalan di lokasi tersebut, alat berat Buldoser yang digunakan tidak dapat bergerak maju,” jelas Ali Brahmada, Warga Kelurahan Sukaraja, yang mengaku sebagai keturunan ke-5 dari Puyang Ulak Semano.

Meski telah berusaha berulang kali, alat berat tersebut disebutkan tidak dapat memasuki kawasan tersebut sehingga lokasi itu tidak jadi ditembus untuk akses jalan.

Dijelaskan, di lokasi pemakaman tua tersebut terdapat ratusan makam. Diantara ratusan makam tersebut terdapat 4 buah makam yang terlihat diberikan atap dan terawat.

Konon, ke-4 makam tersebut diyakini sebagai leluluh bagi masyarakat yang bermukim di daerah Sukaraja.

IMG-20190208-WA0022

“Makam yang paling tua adalah makam puyang Ulak Semano, puyang Jago Bayo, puyang Tumenggung dan puyang Senano Dewo,” jelas Buyung panggilan akrab Ali Brahmada.

Sebelum menjumpai ke-4 makam tersebut, pengunjung/peziarah akan melihat sebuah meriam yang berada di lokasi pemakaman.

Ditambahkan, meski di lokasi itu terdapat senjata meriam, disebutkan oleh Buyung, belum pernah ada instansi dari pemerintah yang melakukan penelitian.

IMG-20190208-WA0023

“Sejak saya menggarap lahan itu, belum ada pihak dari cagar budaya atau dari instansi terkait yang melakukan penelitian,” kata Buyung.

Diceritakan, meriam di lokasi itu disebutkan akan mengeluarkan bunyi dentuman yang didengar oleh warga sekitar.

“Sebelum terjadi gempa besar di Bengkulu Tahun 2000, warga mendengar bunyi letusan yang diyakini berasal dari meriam, tiga hari setelahnya gempa terjadi,” ujar Buyung.

Warga meyakini, jika mendengar dentuman meriam, hal itu diyakini sebagai suatu pertanda agar para keturunan puyang Ulak Semano untuk lebih berhati-hati. Bunyi itu dianggap sebagai tanda pengingat bagi anak cucu dari Puyang Ulak Semano untuk lebih mendekatkan diri ke Allah SWT. (azm009)

Admin 93

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *