Mengisi Ruang Kosong Perkampungan Mengisi Ruang Kosong Perkampungan
Oleh: Faiz Romzi Ahmad* Bermula dari kisah seorang anak perempuan yang merupakan relawan TBM Indung dari Pandeglang Banten pada 18 Maret 2019, yang memilih... Mengisi Ruang Kosong Perkampungan

Oleh: Faiz Romzi Ahmad*

Bermula dari kisah seorang anak perempuan yang merupakan relawan TBM Indung dari Pandeglang Banten pada 18 Maret 2019, yang memilih untuk memutuskan berhenti kuliah meski mendapatkan beasiswa. Ayahnya pekerja serabutan di kampung, ibunya hanya mengurus rumah tangga dan tidak berpenghasilan, adiknya meninggal dunia akibat kecelakaan saat pergi ke kota menjemput dia.

Atih Ardiansyah dan Irma Zakiyah sekaligus pengurus TBM Indung menghimpun banyak pihak untuk menaruh kepedulian, upaya mengadvokasi kampus si anak sudah dilakukan, kampus siap membantu berbagai kendala ekonomi yang dihadapi si anak selama kuliah, mulai dari tempat tinggal gratis dan pekerjaan dengan upah yang layak tanpa mengganggu perkuliahan. Tapi tetap saja, kondisi ekonomi dan alasan traumatik memantapkan si anak untuk berhenti kuliah, upaya menghimpun banyak pihak nampak sia-sia.

Saat melakukan advokasi tersebut, ada dua hal yang menjadi perhatian Atih dan istri. Pertama, orang-orang yang tinggal di kampung sangat rentan putus kuliah (dan sekolah), meskipun sudah mendapatkan beasiswa. Perlu pendampingan yang kontinu dan edukasi terhadap orang tua. Kedua, dengan narasi yang baik rupanya ada banyak sekali orang Indonesia yang menaruh kepedulian dan bisa berkolaborasi dalam membantu sekaligus memproteksi anak kampung dalam mendapatkan dan mempertahankan studinya.

Advokasi dan proteksi hak pendidikan anak-anak kampung dan turut merancang pengembangan kampung menjadi lokus juang Atih, di sinilah embrio Cendekiawan Kampung berdiri menjadi sebuah gerakan.

Urbanisasi dan Delitimasi Prestise

Dalam diskusi daring (24/04/2020) Atih mengutip pakar keagrariaan dan pedesaan, Noer Fauzi Rachman, tentang dunia pendidikan merupakan magnet terbesar bagi proses urbanisasi. Semakin tinggi pendidikan orang kampung, tuturnya, semakin tinggi pula motivasi mereka untuk meninggalkan kampungnya. Kampung ditinggalkan orang-orang yang pandai, termasuk untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Di masyarakat kampung, peralihan pekerjaan dan strata sosial menjadi delitimasi tersendiri hanya karena prestise dengan menyandang ‘pegawai pabrik’ ‘orang kota’ dan ‘kaum terdidik kota’, mereka beralih dan meninggalkan kampung. Tak bisa dinegasikan, urbanisasi adalah fenomena yang jamak di hampir seluruh dunia, kompetisi pasar yang membutuhkan lapangan kerja dan lembaga pendidikan tinggi yang membutuhkan mahasiswa mendukung berbagai sektor yang dikembangkan.

Kota memilki magnet yang besar bagi anak-anak kampung yang mencari kerja, menjadi primadona bagi anak kampung yang terpelajar untuk melanjutkan studinya dan memiliki impian meneruskan kehidupan di sana dan melupakan tempat asalnya, pada klimaks persoalan kampung termarginal secara perlahan.

Anak-anak kampung tidak melihat kampung sebagai sebuah entitas hidup yang harus dikembangkan, mereka melihat kampung sebagai tempat kembali di saat usia mereka sudah tidak produktif lagi. Sehingga, pembangunan suprastruktur di kampung terlupakan. Kesadaran dari orang-orang terdidik (mahasiswa/red) asal kampung yang mukim di kota juga tidak terkontruks sehingga turut menumbuhsuburkan disparitas kampung dan kota. Sehingga, kondisi sumber daya manusia kampung yang seadanya menambah segala hal pelik yang memeruncing perbedaan tersebut.

Mencari Genius Kampung

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah dua pemain sepak bola terbaik di dunia saat ini, mereka tak akan pernah dikenal dunia tanpa kehadiran sosok Charles Rexach dan Aurelio Pereira yang merupakan tim pemandu bakat (talent scout). Rexach dan Pereira yang menemukan talenta Cristiano Ronaldo dan Messi yang kemudian mengukir prestasi gemilang sebagai pemain sepak bola.

Atih selaku founder CK menganalogikan talent scouting yang dilakukan oleh tim pemandu bakat Messi dan Ronaldo untuk diduplikasi dalam gerakan Cendekiawan Kampung. Beranjak dari kisah seorang anak perempuan yang memilih untuk putus kuliah, CK melakukan talent scouting atau blusukan ke kampung-kampung, mencari anak-anak kampung (genius kampung) yang memiliki kesamaan nasib, pribadinya memiliki dedikasi tapi putus kuliah atau tidak bisa melanjutkan studi tinggi sebab keadaan ekonomi dan minim dukungan dari keluarga dan sekitar.

Setelah berhasil mengadvokasi dan menjalin kemitraan dengan beberapa kampus untuk menerima genius kampung untuk kuliah melalui beasiswa dengan berbagai skema. CK mempertautkan genius kampung dengan mitra kampus atau pemberi beasiswa, berawal dari talent scouting inilah CK berikhtiar menjadi metamorfosa dan sintesis dari dikotomi kampung dan kota. Di tahun pertama, 13 orang genius kampung (awardee), tahun kedua 10 orang genius kampung yang ke semuanya berstatus mustahik (golongan penerima zakat), berhasil CK antarkan untuk kuliah S1 dengan beasiswa.

Mengembalikan Genius Kampung

Negara belum sepenuhnya hadir di tengah masyarakat kampung, cenderung abai terhadap disparitas kampung dan kota yang makin hari kian meruncing. Kampung bukanlah ruang kosong, kampung adalah ruang yang kaya akan interaksi sosial, pembangunan kampung adalah sebuah amanah untuk mengisi ruang kosong di perkampungan.

Selain melakukan advokasi pada berbagai pihak untuk menjadikan kampung sebagai arus utama pembangunan dan memberikan proteksi pada anak-anak kampung yang rentan putus kuliah, juga melakukan edukasi pentingnya pendidikan kepada masyarakat kampung, dan gerakan penyadaran orang-orang pintar asal kampung untuk membangun kampung.

Masalahnya, di kampung mahasiswa kurang bisa berbaur dengan masyarakat. Mereka cenderung memilih teman untuk bergaul, mencari yang selevel (terdidik), ini menjadi jurang komunikasi antara mahasiswa asal kampung dengan masyarakat kampung.

CK membentuk pribadi genius kampung sebagai antitesis dari jurang komunikasi yang selama ini membudaya, CK berinsiatif menjadi model pembangunan kawasan berbasis sumber daya manusia bersinergi dengan genius kampung (penerima beasiswa), nantinya para genius kampung inilah yang mengubah dan menyelesaikan sendiri persoalan kampungnya.

Mengembalikan genius kampung ke kampung akan membuat kampung berdaulat, kampung akan dihuni oleh masyarakat yang mengembangkan kampung ke arah kemajuan, membentuk paradigm orang terdidik kampung harus membangun kampung, masyarakat kampung melakukan percepatan pembangunan kampung dan memastikan ‘masa depan kampung’.

Cendekiawan Kampung, sebagaimana Atih Ardiansyah sampaikan, mengadopsi talent scouting yang dilakukan Indra Safrie ketika mencari bibit-bibit pemain nasional usia 19 tahun ke kampung-kampung yang telah mempersembahkan juara piala AFF pada tahun 2013. Perlu proses panjang melalui program terintegrasi, program latihan dalam jangka panjang, mencari anak-anak berbakat dari kampung ke kampung.

Cendekiawan Kampung berupaya terhadap sebuah kampung agar tidak pernah kehilangan anak-anak terbaiknya, pungkas sang moderator, Joanna Zettira.

*Relawan Cendekiawan Kampung

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *