Kopri PMII Harus Mampu Memberikan Alternatif Gerakan Bagi Perempuan Kopri PMII Harus Mampu Memberikan Alternatif Gerakan Bagi Perempuan
GerbangBengkulu – Wacana dalam pemikiran Islam yang berkembang sebagaimana wacana lainnya seperti kemanusiaan, cenderung mengabaikan eksistensi perempuan. Hal ini ditegaskan kader Pergerakan Mahasiswa Islam... Kopri PMII Harus Mampu Memberikan Alternatif Gerakan Bagi Perempuan

GerbangBengkulu – Wacana dalam pemikiran Islam yang berkembang sebagaimana wacana lainnya seperti kemanusiaan, cenderung mengabaikan eksistensi perempuan. Hal ini ditegaskan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Herlina Nasuktion yang juga Kandidat terkuat Ketum PB Kopri periode 2017-2019.

Menurut Herlina, budaya-budaya populer merasuk lebih dalam dari agama ke dalam individu-individu, “sesemua itu diakumulasikan dalam ketidakadilan yang memang menyatu dalam tubuh perempuan, ia penerima terendah produksi ekonomi, non-subyek dalam sistem hukum, ia sasaran penghukuman moral dalam politik agama, dan umpan dalam politik media,” ujar alumnus Filsafat Politik Islam UIN Sumatera Utara ini.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sambung Herlina, keberadaan Kopri diharapkan, mampu menjadi salah satu kelompok efektif yang aktif dalam memberikan alternatif gerakan untuk mengurai berbagai persoalan yang muncul di masyarakat, “persoalan hak asasi manusia, demokrasi, globalisasi, hukum, politik, pendidikan, ekonomi, kesehatan, kebudayaan, keberagaman dan pluralisme, lingkungan dan yang paling khusus adalah persoalan gender. Persolahan gender menjadi salah satu bagian penting dari upaya perjuangan untuk menempatkan hak laki-laki dan perempuan agar setara,” imbuhnya bersemangat.

Herlina mengiginkan, gerakan Kopri harus berpijak pada realitas perempuan di berbagai sektor. Diantaranya, sektor Pendidikan, Kepemimpinan dan Politik, Ekonomi dan Pembangunan, Budaya, serta sektor Kesehatan yang justru terkadang perempuan menerima stigma ganda ketika menderita penyakit tertentu, “oleh karena itu perlu pengawasan dan advokasi terhadap hak kesehatan perempuan,” pungkas Herlina

Korps PMII Puteri (KOPRI) yang lahir 25 November 1967, tambah Herlina, merupakan wadah kader perempuan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Prinsip Kesetaraan Kopri yang merupakan salah satu bagian prinsip kesetaraan dalam Al-Quran sebagai Khalifatullah Fil Ardl dan keberadaannnya menjadi rahmat bagi segenap alam.

“Keberadaan Kopri harus dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh kader-kader PMII, tetapi juga oleh seluruh umat manusia baik secara langsung maupun tidak langsung,” tambah Helina.

Senada dengan Herlina, Ketua PC Kopri Kota Bengkulu, Jeni Melisa juga menegaskan, kontribusi kader-kader Kopri harus dirasakan oleh masyarakat, khususnya di daerah-daerah tertinggal yang rawan terhadap kasus kekerasa terhadap perempuan dan anak, “pola kaderisasi ke depan, harus mengarah pada kesiapan SDM yang memadahi, supaya PMII khususnya Kopri di internal kuat dan secara ekternal dapat berkontribusi banyak bagi bangsa dan negara,” ungkap Jeni Melisa yang juga mahasiswa aktif IAIN Bengkulu ini.

Jeni menambahkan, pada Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Palu Sulawesi Tengah, pada tanggal 15-19 Mei 2017 mendatang, siapapun yang terpilih jadi Ketum Pengurus Besar Kopri nanti, semoga bisa mengawal kaderisasi hingga ke daerah-daerah tanpa melihat perbedaan suku dan perbedaan pilihan politik. (***)

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *