Ketika Penyair Menemukan Jalan Puisi Ketika Penyair Menemukan Jalan Puisi
Oleh: Heri Maja Kelana*   Puisi sangat dekat dengan kehidupan pribadi penyairnya. –Sihar Ramses Simatupang. Indonesia adalah napas kita. Anakku, sejarah makin tenggelam di... Ketika Penyair Menemukan Jalan Puisi

Oleh: Heri Maja Kelana*

 

Puisi sangat dekat dengan kehidupan pribadi penyairnya. –Sihar Ramses Simatupang.

Indonesia adalah napas kita. Anakku, sejarah makin tenggelam di ujung senja. Aku tak tahu apa fajar akan tumbuh di kelopak matamu ….
Sihar Ramses Simatupang mempersembahkan deklamasi puisinya Indonesia dengan lantang yang membentur ruang maya. Meskipun masih dalam suasana pandemi covid-19 yang berdampak pada Pembatasan Sosial Bersekala Besar beberapa daerah. Namun, Perkumpulan Literasi Indonesia terus bergerak dalam memajukan literasi di Indonesia tanpa batas ruang dan waktu.

World Book Day 2020, Indonesia Online Festival sebagai bukti bahwa dalam keadaan apa pun, seperti sekarang sedang pandemi, tidak boleh pasif dalam melakukan aktivitas. Justru, literasi harus lebih maju 3-5 langkah dari yang lain. Sebab, literasi adalah ujung tombak perubahan bangsa.

Diskusi #14 dengan narasumber Sihar Ramses Simatupang mengambil tema “Puisi: Antara Estetika dan Fenomena Kemanusiaan” dengan moderator seorang pegiat sastra dari Tasikmalaya, yaitu Lupy Agustia Dewi yang selanjutnya akan saya panggil Lupy.

Sihar Ramses Simatupang memiliki perjalanan panjang kekaryaan. Ia lahir di Jakarta, 1 Oktober 1974, pernah kuliah di jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Sam Ratulangi, Manado, pada tahun 1992-1993. Ia menamatkan Sarjana Sastra, di Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya.

Mengorek Proses Kreatif Puisi
Dalam proses kreatif, Sihar banyak membaca karya-karya. Baginya, puisi itu sangat dekat dengan pribadi penyairnya. Ia banyak membaca karya-karya Rendra, Tardji, Goenawan Mohamad, Chairil Anwar sebagai tokoh dengan gaya kepenulisan puisi yang kuat serta memunyai ciri khas. Dari mereka, ia pun belajar dari karya-karya luar seperti, Pablo Neruda dan Octavio Paz. “Belajar banyak dari mereka, kemudian saya menemukan jalan puisi saya atau gaya saya dalam menulis puisi,” jelas Sihar.
Jalan kepenyairan Sihar begitu panjang serta berliku. Hal ini penting untuk dikuak sebagai pembelajaran untuk siapa saja yang ingin mengikuti jejak sastrawan yang pernah mengasuh rubrik sastra di Sinar Harapan itu.

Sihar tidak hanya membaca karya dari tokoh-tokoh terkenal semata, melainkan ia mengkaji lebih dalam untuk menemukan gaya mereka dalam berpuisi. Seperti penggunaan metafora yang kuat pada puisi-puisi Goenawan, pemilihan diksi sehari-hari yang terjadi pada puisi Sapardi, suasana humor pada puisi Joko Pinurbo, hingga kelugasan dalam berucap seperti pada puisi-puisinya Widji Tukul. Hal tersebut ia lakukan untuk menemukan jalan kepenyairannya.

Selain menulis puisi, ia seorang aktivis mahasiswa yang turun ke jalan pada masa reformasi. Oleh karenanya, diksi-diksi sosial, tema-tema kemanusiaan, selalu melekat pada dirinya, yang berpengaruh terhadap jalan estetikanya sendiri.

Sihar mengaku selama menemukan jalan esetikanya sendiri, telah banyak melakukan kontemplasi dari penulis-penulis lain.
“Penyair tidak akan pernah bisa melepaskan bayang-bayang dari gaya kepenulisan penyair pendahulunya,” sambung Sihar.

Selain memaparkan teks yang berpengaruh terhadap dirinya, Sihar kemudian memaparkan tentang dirinya yang seorang Batak, namun lahir di Jakarta. Hal ini menjadi folkor tersendiri. Seperti juga Sitor Situmorang, Korrie Layun Rampan, Afrizal Malna, yang mencari akar tradisi pada dirinya.

Pengalaman-pengalaman bertualang serta menetap di beberapa bagian di wilayah Indonesia seperti di Manado, Surabaya, ketika menjadi mahasiswa turut berpengaruh pula terhadap jalan kepenyairannya. Terlebih ia banyak bersentuhan dengan lintas seni lainnya seperti, rupa, teater, musik, serta tari.
Sihar telah menjadi sastrawan yang dikenal di tanah air sekarang, bahkan mancanegara. Terbukti dengan banyaknya penghargaan yang pernah diraihnya, salah satu penghargaan yang ia terima dari penerbit Italia, Metropoli d’Asia.

Buku-buku seperti kumpulan puisi, cerpen, hingga novel banyak diterbitkan oleh penerbit. Salah satunya buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh penerbit Q Publisher yang berjudul Semadi Akar Angin, serta novel Misteri Lukisan Nabila, Penerbit Nuansa Cendekia. Kumpulan cerpennya diterbitkan oleh penerbit Dewata Publishing, dengan judul Narasi Seorang Pembunuh.

Sihar oh Sihar, simulakra serta jalan berliku yang panjang telah membawamu pada satu keyakinan teguh, yaitu jalan estetika yang sekarang ia pakai pada karya-karyanya.
kau tahu mimpi itu, eden. tempat orang-orang melabuhkan kerja dan perih dari seluruh pengembaraan di dunia bawah sana. tak beda rahasia yang tersimpan ketika laut dan hampar daratan masuk ke dalam buntalan pak janggut. betapa selembar kain menutup biografi orang dan deret nama, kenang atau perbuatan – selesai seirama doa para pelayat.
kau tahu mimpi itu, eden. sarang sakit dari cita-cita yang tak tergapai, yang tak selalu diwakili jerit, bahkan lenguh pendek sekalipun. layar mimpi yang sobek, dayung yang patah, samudera cuma masa silam pada tatahan marmer nisan. batu adalah pena yang tertatah matahari-setiap hari. kerasnya mengiris udara; memang memuai tapi mewariskan luka.

kau tahu peristirahatan itu, eden. seharusnya kau bangga menampung semua yang sia-sia menjadi ada dan beranak-pinak disana. di antara buah dan aib kenangan; atau dosa keturunan yang lindap di taman-tamanmu-bersama lidah iblis dan cawat merah. kita tak hendak pergi, tapi semua sia-sia, sebagaimana kesombongan tanah lempung hancur dalam cetakan Tuhan.

kau tahu kenangan itu, eden. benang adam dan hawa yang putus kerap tercipta lagi dari bulu dan jemari malaikat. orang di dunia bawah bahkan tak memiliki nostalgia sedikit pun di keriput otak dan mata rabunnya. tapi demikianlah, mereka memelihara gelisah di antara ketuk gerimis pada tubuh yang gemetar dan basah. mereka pelupa tapi mereka tahu di mana pintu dan jalan itu.

: semua menuju-Nya.
(Mimpi Edan, puisi Sihar Ramses Simatupang).
Kontekstual dan Puitika

Sihar menguak ungkapan Seno Gumira Ajidarma dari buku Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, bahwa tandingan bahasa penguasa hanya dapat disandingkan dengan bahasa sastra yang bisa berada di tengah masyarakat. Penyair dapat menjadi pendengar kaum buruh yang bicara keluh, dilema, dan lenguh. Sastra dapat menyeruak realitas yang belum tentu memanggil kepekaan penguasa. Seniman setelah turun dari panggung kembali ke masyarakat. Mereka harus menjadi juru bicara kaum tertindas yang menghadapi kehidupan mendesak per sekian detik. Setelah estetik mapan, tidak mungkin menghilangkan realitas masyarakat. Karya tetap kontekstual sepanjang waktu.

Keterkaitan dengan oknum yang terlibat kasus pelecehan seksual, Lupy mengungkapkan bahwa ketika penyair harus menyuarakan ketidakadilan, justru menjadi pelaku kejahatan kemanusiaan. Bagi Sihar, puisi sangat dekat dengan akulirik si penyair. Oleh karena itu, penyair memiliki risiko yang sangat dekat dengan problematika individu dan sosial. Secara ideal, si penyair mestinya hidup sedalam puisinya. Contoh sederhana, ketika penyair harus ikut kerja bakti di lingkungannya, mestinya ia tidak lagi diingatkan untuk turun membersihkan jalan.

Eka Budianta mengumpamakan Rendra dalam konteks peran penyair di masyarakat. Jika Rendra masih hidup pasti membuat suntikan massal. Pada saat terjadi krisis 1998, Rendra membagikan beras dan sembako dari bantuan Setiawan Jodi. Harus ada peranan nyata bahwa penyair juga tidak sekadar bermain kata, tetapi memiliki kecintaan konkrit terhadap tanah airnya. Contoh lain, yaitu Chairil Anwar. Ia pun mengobarkan semangat pada masanya. Penyair merupakan representasi hati nurani, harus menjadi kesehatan jiwa bagi masyarakat.

“Puisi dengan penyair, cerita dengan pengarang, dan berita dengan wartawan, harus menjadi aku agar menjiwai sebagai bagian utuh yang satu,” tegas Sihar.
Kekuatan puisi kontekstual dapat berfungsi sebagai dokumentasi dari kondisi sosial yang berbeda, semisal kondisi masa virus korona dengan kemampuan penyair membuat puisi yang menimbulkan empati bagi generasi mendatang—bahwa mereka membaca peristiwa sebuah generasi yang mengalami wabah corona. Kekuatan karya sastra berbeda dengan jurnalistik, bahkan bisa lebih kuat dari feature. Kontekstual pada setiap zaman dapat dijadikan proses kreatif bagi penyair.

“Seperti ketika saya menikmati puisi Bunda, karya Maxim Gorky, dapat membayangkan buruh, pekerja kasar yang berada di Indonesia. Meskipun tanpa mengetahui revolusi yang terjadi di Rusia. Tetapi, saya dapat menikmatinya sebagai karya pembelajaran terhadap sejarah yang berguna untuk menghidupkan kemanusiaan bagi pembacanya,” tanggapan akhir Sihar terhadap kualitas puisi kontekstual.

*Penulis, bergiat di Rumah Baca Taman Sekar Bandung

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *