Kepekaan Jihad Literasi di Sulawesi Kepekaan Jihad Literasi di Sulawesi
Oleh: Joana Zettira* Kepekaan yang tumbuh sejak remaja ketika duduk di bangku SMA adalah sebuah anugerah. Bagaimana peduli terhadap anak-anak putus sekolah yang berserakan... Kepekaan Jihad Literasi di Sulawesi

Oleh: Joana Zettira*

Kepekaan yang tumbuh sejak remaja ketika duduk di bangku SMA adalah sebuah anugerah. Bagaimana peduli terhadap anak-anak putus sekolah yang berserakan di terminal dan pasar? Begitulah keterpanggilan Dilla Bachmid, seorang pegiat literasi Sulawesi, menuju jalan kemuliaan untuk kemudian menyelamatkan anak-anak mendapatkan kesempatan pendidikan.

“Mbak Dilla Bachmid seperti berjalan menuju cahaya,” terang Faiz Romzy, moderator pada diskusi daring World Book Day 2020, pada hari Selasa (28/4/2020).

Jihad literasi telah dilakoni Faradilla Bachmid selama kurun waktu satu dekade. Ia menyulap lorong pasar Paal 2 Terminal Manado, menjadi tempat belajar bagi anak anak putus sekolah. Mengusung topik Reinternalisasi dan Kapasitas Pegiat Masa Pandemi: Pengalaman Perkumpulan Literasi Sulut, Faradilla Bachmid membagikan kisah perjalanan jihadnya. Dilla, sapaan akrabnya, menjadi pemateri sesi ke-16 dalam rangkaian peringatan World Book Day 2020 (28/4).

Saat ini Dilla merupakan kapten bagi Forum Taman Bacaan Masyarakat Sulawesi Utara. Tak tanggung-tanggung, gelar Duta Baca Sulawesi Utara juga diembannya. Dilla mendedikasikan hidupnya untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak anak putus sekolah di sekitarnya.

Merdeka Belajar
Usia Dilla masih belia kala terbetik di batinnya ketika memiliki keinginan untuk membantu sesama. “Awal tahun 2009, dari pasar pal 2 terminal, saya masih SMA kelas 2. Saya merasa hadir ketidakadilan di situ”. Anak-anak di bawah umur harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Banyak pula yang putus sekolah dengan berbagai alasan. “Bahkan, ada salah satu anak masih berusia 8 tahun, tapi jadi tulang punggung untuk kakek dan neneknya,” tutur Dilla.

Tak sendirian, ia mendapat dukungan dari orang tua dan teman-temannya. “Teman-teman merasa memiliki passion yang sama, kebutuhan berbagi yang sama, mereka siap untuk berbagi bersama saya. Jadi relawan yang siap ditawan, saya pribadi jadi tidak susah mengajak mereka.”

Melihat realitas di lapangan, konsep pembelajaran dibuat sesuai dengan kebutuhan. Anak-anak tidak dicekoki materi eksak dan soal-soal panjang. Dilla menitikberatkan pada aspek pemberdayaan. “Lebih ke lifeskill,” ujarnya. Dilla bahkan kerap mengajak anak-anak mengeksplorasi alam sekitar. Ke pantai, misalkan. Metode ini kontekstual dengan yang hari ini didengungkan oleh Mendikbud Dikti tentang merdeka belajar. Senada dengan metode pendidikan Ki Hajar Dewantara, bahwa sekolah adalah taman. Tempat bermain dan belajar.

Lima tahun memanfaatkan los pasar, Dilla memindahkan tempat belajar anak-anak ke kediamannya pada tahun 2014. Bersama kedua orang tua, ia mendesain lantai 1 rumahnya sebagai ruang publik. Mulai dari PAUD, pendidikan kesetaraan, hingga taman bacaan dibangun di rumah tersebut. “Jangan sampai saya bisa sekolah, tapi banyak anak-anak di sekitar saya, nggak bisa sekolah. Saya bisa akses fasilitas, banyak anak di sekitar saya, nggak bisa mengakses fasilitas,” Dilla mengentak.

Penolakan Bertubi-tubi
Sukses meluluskan 400 siswa hingga saat ini, ada perjuangan panjang yang harus Dilla lalui. Ia menghadapi bertubi tubi penolakan dan justifikasi. Terutama di kalangan orang tua. “Karena yang kita sasar anak-anak yang sebelumnya bekerja buat mereka. Lalu, anak-anak jadi tidak mau lagi bekerja. Asyik dengan dunia baru bernama: belajar di sekolah,” bela Dilla.

Ia bahkan sempat dimusuhi. Bahkan, pernah dilempari tomat busuk dan telor busuk. Untuk bisa sekolah ini dihentikan. Kegitan literasi ini dihentikan, kenangnya. Moderator diskusi, Faiz Romzi Ahmad ikut berseloroh, sering kali pegiat literasi harus berhadapan dengan mindset anak adalah aset. Anak harus bekerja untuk menghasilkan uang.
Menyikapi resistensi itu, Dilla tidak muluk-muluk. Ia hanya membawa hati dan berupaya memberikan bukti. Sebab sebelum Dilla, ada sekelompok orang yang mendata jumlah anak putus sekolah, tetapi setelah pendataan mereka tak muncul lagi. “Saya bilang, sekolah tidak bikin langsung kaya. Tapi memberi pengetahuan, bertemu banyak orang, dan mengenal potensi diri kita” ia member semangat.

Bertahan Saat Covid-19
Saat ini Perkumpulan Literasi Sulut yang Dilla gawangi, memiliki total 100 relawan dan 5 penggerak utama roda pendidikan. Situasi pandemi, mengharuskan Dilla dan tim bekerja ekstra keras. Dari 40% total siswa, belum memiliki peranti telekomunikasi berupa ponsel. Pernah Dilla dan relawan menginisiasi antarsoal dan materi langsung ke rumah anak didik, tetapi terkendala pembatasan jalan-jalan antarkampung.
Sampai salah seorang seorang siswa menelepon Dilla, “Kak, ini saya nggak bisa ujian, nanti nggak lulus,” keluh siswa tersebut. Semangat belajar tetap menggelora meski di tengah pandemi. Untuk itu, Dilla mencoba memaksimalkan pembelajaran daring melalui WhatsApp grup. Pembelajaran pun diupayakan tetap kontekstual, menyoal pandemi yang ada. Anak-anak diimbau untuk melakukan physical distancing, memakai masker, dan rajin mencuci tangan dengan handsanitizer. Kini, Dilla bersama tim tengah menyusun formula pembelajaran yang paling tepat untuk diterapkan dalam situasi ini. Termasuk, secara rutin melakukan pendekatan personal kepada anak didiknya.
Wiwik Subandiyah, pegiat literasi yang turut ikut serta dalam diskusi, bersepakat pendampingan psikologis sangat penting. Terlebih saat pandemi, “Tidak sedikit orang tua yang mengeluh ‘di rumah anak diajari apa ya’?”. Seolah terjadi culturelag ketika tanggung jawab mendidik kembali seutuhnya kepada orang tua. Meski berat, Dilla berharap gotong royong yang terbangun selama pandemi, langgeng hingga lahirnya normal baru pasca pandemi.
Indonesia masih memiliki kesempatan menggapai masa depan lebih baik dengan bersama, tidak sendiri-sendiri. Bagi Dilla Bachmid, harapan itulah yang terus menguatkan dirinya karena bertemu dengan banyak jalan untuk kemanusiaan.

Pegiat Literasi dan Duta Museum DI Yogyakarta*

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *