Kejahatan Pelaku Pemerkosaan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam Kejahatan Pelaku Pemerkosaan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam
Oleh: Muhammad Syahwalan* Masih segar di ingatan mengenai kasus pelajar SMP di salah satu Kabupaten di Provinsi Bengkulu,YY. Remaja putrid yang malang ini mengalami... Kejahatan Pelaku Pemerkosaan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam

Oleh: Muhammad Syahwalan*

Masih segar di ingatan mengenai kasus pelajar SMP di salah satu Kabupaten di Provinsi Bengkulu,YY. Remaja putrid yang malang ini mengalami kekerasan seksual hingga merenggut nyawa siswa tak bersalah ini. Di usia yang masih belia, 14 tahun, almarhumah sudah harus merasakan pahitnya kejahatan pemerkosaan yang dilakukan oleh 14 pemuda bejat yang sedang pesta mabuk-mabukan di tempat umum. Kronologi singkat kejadiannya adalah sekitar pukul 13:00 korban baru pulang dari kegiatan sekolah sabtu 2 April 2016. Ada 14 remaja yang berusia dari 20 tahun hingga 16 tahun sedang melakukan pesta miras tidak jauh dari tempat kejadian. Setelah minum-minuman keras tersebut, ke-14 tersangka tersebut nongkrong di salah satu tempat di pinggir jalan raya. Masih dalam keadaan mabuk, korban, YY, melintas di jalan raya tersebut pulang dari sekolahnya di SMP 5 Padang Ulang Tanding Kasie Kasubun. Karena pengaruh alkohol yang cukup kuat membuat para tersangka kalap mata dengan tanpa pertimbangan melakukan perbuatan keji tersebut.

Selain pemerkosaan, kejadian ini juga termasuk kejahatan kekerasan terutama kekerasan pada anak. Sebab sebelum, selama dan paska pemerkosaan, korban harus mengalami kekerasan terhadap dirinya, mulai dari perobekan baju secara paksa, pemukulan terhadap kepala, hingga pencekikan pada leher korban sehingga terjadi pembunuhan terhadap korban Y ini. Menurut keterangan penyidik polisi, korban meninggal akibat susah bernafas akibat mulut korban disekap. Ditambahkan juga bahwa korban telah meninggal selama pemerkosaan terjadi. Mengetahui korban telah tidak bernyawa, para tersangka membuang jasad korban ke jurang yang tidak jauh dari tempat kejadian perkara.

Dalam ilmu hukum Islam (biasa dikenal dengan istilah Fiqih JInayah) kejahatan dalam hukum pidana Islam(selanjutnya disebut Jarimah) terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu: Jarimah Hudud, Jarimah Qishah Diyat dan Jarimah Ta’zir

Jarimah Hudud adalah perbuatan tindak pidana yang sanksinya ditetapkan secara mutlak oleh Allah SWT, sehingga manusia tidak berhak untuk menetapkan hukuman lain selain hukum yang ditetapkan berdasrkan kitab Allah. Kejahatan hudud adalah kejahatan yang paling serius dan berat dalam hukum pidana Islam. Ini adalah kejahatan terhadap kepentingan publik. Dalam fiqih jinayah, yang termasuk ke dalam kejahatan Hudud (jarimah hudud) yaitu:(1) Zina, (2) Qdazaf (Tuduhan palsu zina), (3) Sariqah (Curian), (4) Hirabah (Perampokan), (5) Riddah (Murtad), (6) Al-baghy (pemberontakan),(7) Syurb al khamr (meminum khamar)

Jarimah Qishah Diyat adalah suatu kejahatan terhadap jiwa (menghilangkan nyawa) dan anggota badan (pelukaan) yang diancam dengan hukuman qishas (serupa/semisal) atau hukuman diyat (ganti rugi dari si pelaku atau ahlinya kepada si korban atau walinya). Kejahatan yang tergolong dalam jarimah qishas diyat, biasa dikenal sebagai tindak pidana terhadap tubuh dan jiwa, yaitu: (1) Pembunuhan dengan sengaja, (2) Pembunuhan semi sengaja, (3) pembunuhan karena kealpaan, (4) penganiayaan, dan (5) menimbulkan luka atau sakit karena kelalaian.

Jarimah Ta’zir adalah perbuatan kejahatan yang membahayakan kepentingan umum dan melakukan pelanggaran. Jarimah ini merupakan bentuk kejahatan yang lebih ringan dari kejahatan jarimah hudud dan jarimah qishas diyat.

Terkait kejahatan yang dilakukan terhadap siswi SMP Padang Ulak Tanding Rejang Lebong Bengkulu, YY, maka hal ini menyangkut pada dua kejahatan besar yang dilakukan oleh ke-14 orang pelaku tersebut Kejahatan jarimah Hudud (Zina dan minum minuman keras) dan jarimah Qishah Diyat (Pembunuhan semi sengaja).

Berbicara mengenai hukuman yang pantas dijatuhkan saya membagi menjadi dua jenis, Pertama, zina (atau dalam hal ini adalah pemerkosaan dan pemaksaan)

Mengenai penjatuhan hukum bagi para pelaku zina ini, Allah SWT menjelaskan di firmanya dalam surah An-Nur: 2

الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مئة جلدة ولا تأخذكم بهما رأفة في دين الله إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر وليشهد عذابهما طائفة من المؤمنين

Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Bentuk kejahatan yang paling tinggi tingkatannya dalam hukum pidana Islam adalah kejahatan hudud, di mana kejahatan ini langsung mendapat penjatuhan hukum dari Allah SWT. Dari firman-Nya di atas dapat kita tarik intisari hukum yang tepat bagi pelaku adalah berupa dera dan rajam. Di mana selain memberi efek jera kepada pelaku (jika beruntung masih bisa hidup) juga memberi dampak efek preventif atau penjegahan terhadap perilaku itu terulang kembali oleh orang lain. Artinya efek jera bagi calon pelaku kejahatan jarimah hudud ini.

Dalam hadis pun Rasulullah juga menjatuhan hukuman bagi pelaku peminum minuman keras. Seperti yang terdapat dalam sebuah hadis yang artinya:

Dari Anas Ibn Malik bahwa Nabi SAW pernah didatangkan seseorang yang telah minum arak, lalu memukulnya dengan dua pelepah kurma sekitar 40 kali. Perawi berkata bahwa Abu Bakar juga melakukan demikian. Pada masa Umar ia bermusyawarah dengan orang-orang lalu Abdurrahman Ibnu ‘Auf berkata: “hukuman paling ringan adalah 80 kali.” Kemudian Umar memerintahkan untuk melaksanakannya. (Hadis Muttafaq Alaih)

Mengenai pelaku minum-minuman keras, Rasulullah menetapkan hukuman cambuk sebanyak 80 kali. Ini diisyaratkan agar pahitnya penjatuhan hukuman tidaknya hanya dirasakan oleh pelaku secara langsung guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, melainkan memberikan pendidikan kepada masyarakat umum untuk tidak melakukan hal buruk yang sama. Contoh real-nya pada kasus YY, dampak buruk yang ditimbulkan dari perilaku meminum minuman keras ini sangatlah masif hingga merebut nyawa anak kecil yang tak bersalah. Saya pribadi merasa hukuman yang dijelaskan Rasulullah di atas sudh cukup jelas dan akan berdampak, yang mana  bisa meminimalisir tindak kejahatan yang sama.

 Kedua, Pembunuhan semi sengaja

Pembunuhan semi sengaja adalah bentuk kejahatan jarimah yang dilakukan dengan niat awal tidak untuk membunuh, namun kenyataannya justru menghilangkan nyawa korban. Kembali merujuk pada pelaku pemerkosaan, penganiayaan dan pembunuhan siswi SMP di Bengkulu. Awalnya ke-14 pemuda ini terlihat mabuk akibat meminum-minuman keras (tuak) kemudian dengan tidak sengaja korban lewat di hadapan para pelaku dan terjadilah perbuatan keji tersebut. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 178-179 Allah SWT dalam firman-Nya kembali menyatakan:

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر والعبد بالعبد والأنثى بالأنثى فمن عفي له من أخيه شيء فاتباع بالمعروف وأداء إليه بإحسان ذلك تخفيف من ربكم ورحمة فمن اعتدى بعد ذلك فله عذاب أليم

ولكم في القصاص حياة يا أولي الألباب لعلكم تتقون

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”

Hukuman bagi para pelaku pembunuhan ini dalam Islam adalah hukum Qishas (hukuman mati) atau Diyat (ganti rugi) yang berupa harta benda. Hikmah dibalik pemberlakuan hukuman ini adalah untuk mencegah manusia dari perbuatan yang merugikan orang lain, dalam hal ini menyangkut nyawa kehidupan manusia. Disamping itu juga untuk tetap menjaga ketertiban dan keamanan serta sikap saling menjaga antar sesame manusia dalam hidup bermasyarakat.

Kesimpulan dari tulisan ini, pertama mengenai sanksi penjatuhan hukuman bagi pelaku kejahatan. Menilik sistem hukum kita yang secara manusiawi penjatuhan hukuman kepada pelaku kejahatan belum dirasa memihak kepada korban. Formulasi bentuk hukuman saya rasa bisa memberi dampak pembaharuan yang diharapkan. Sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, pelaku kejahatan ini akan dihukum maksimal 15 tahun penjara atau denda sebanyak 3 miliyar rupiah. Atau alternative lain misalkan bagi pelaku kasus pemerkosaan bisa dijatuhi hukum kebiri yakni menghilangkan nafsu birahi seksual/libido sang pelaku. Hal ini sudah diterapkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat (di beberapa negara bagian seperti California, Florida, Lowa dan Louisiana), dan Australia (Australia Barat). Kedua, bahwasannya perilaku untuk saling menjaga antar sesama manusia haruslah lebih ditingkatkan. Sebab masyarakat sekitar merupakan petugas keamanan yang paling dekat dan langsung berinteraksi di dalam kehidupan sosial. Serta bentuk sosialisai yang harus lebih digalakan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Dengan meningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban maka hal ini justru akan menjadi bentuk proteksi diri pertama guna mencegah hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

*Muhammad Syahwalan, Alumni IAIN Bengkulu Jurusan Hukum Tata Negara (Siyasah) Fakultas Syari’ah dan Hukum

gerbang 86

Tinggalkan Balasan ke oisejowawku Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *