Hari Buruh, Ibu-ibu Protes Gaji tak Kunjung Turun. Hari Buruh, Ibu-ibu Protes Gaji tak Kunjung Turun.
Ungkapan Ibu-ibu Buruh PT. BCC
GerbangBengkulu – 1 Mei dijadikan sebagai mayday, annual celebration, perayaan tahunan hari buruh internasional. Dibanyak negara dunia, setiap Hari Buruh akan menjadi hari libur... Hari Buruh, Ibu-ibu Protes Gaji tak Kunjung Turun.

GerbangBengkulu – 1 Mei dijadikan sebagai mayday, annual celebration, perayaan tahunan hari buruh internasional. Dibanyak negara dunia, setiap Hari Buruh akan menjadi hari libur nasional termasuk di Indonesia.

Tak ayal, di Provinsi Bengkulu, hari Buruh Internasional dijadikan sebagai ajang argumentasi terbuka, bagaimana tidak, para buruh di provinsi yang berumur setengah abad lebih dengan ikon Bunga Rafflesia ini, masih saja banyak kejadian buruh yang tertindas hingga haknya pun diambil, dikebiri dan sumsum tulang para buruh disedot secara tidak manusiawi,seperti halnya pembayaran gaji sekelompok ibu-ibu yang menjadi bagian dari buruh, hingga berbulan-bulan tidak menerima haknya yang berbanding terbalik dengan keringat selama ini terkuras.

Dirasakan sekelompok ibu-ibu buruh harian lepas di Stockpile penumpukan batubara di kelurahan Teluk sepang, mereka dari Oktober sampai Mei belum juga dibayar oleh perusahaan PT Bencolen Carbon Coal (BCC) dan permasalahan ini sebelumnya sudah diketahui oleh pemangku kebijakan.

Pemerintah sampai saat sebagai yang memiliki kebijakan hanya memberikan harapan palsu. Karena sebelumnya ratusan ibu-ibu pemilah batubara ini menyerahkan kepercayaan kepada Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Bengkulu.

“Kami sudah berulang-ulang kali menghadap ke kantor Disnakertrans Provinsi Bengkulu, tapi kami selalu diulur-ulur dan diberi harapan palsu, yang katanya akan diselesaikan secepatnya, dan gaji kami akan dibayar tapi kenyataannya sampai detik ini hanya omong kosong yang kami dapat,” jelas perwakilan buruh harian lepas batubara Teluk Sepang, Novita Sari, Jumat (01/05/2020) dikutip dari pedoman Bengkulu.

Sejak awal Oktober 2019, ada 117 pekerja tidak menerima gaji dari PT BCC yang mempekerjakan mayoritas perempuan sebagai buruh parting di stockpile yang berada di Teluk Sepang.

Berbagai upaya sudah dilakukan oleh buruh perempuan mulai dari mendatangi pengelola stockpile PT BCC sampai meminta kepada Disnakertrans Provinsi Bengkulu untuk memanggil pihak PT BCC dan menyelesaikan pembayaran gaji pekerja.

“Hasil dari pertemuan ke Disnakertrans Provinsi Bengkulu pada 18 November 2019 ada perjanjian bersama antara perusahaan dan pekerja dengan kesepakatan perusahaan akan membayar sisa upah yang belum dibayar selambat-lambatnya 45 hari sejak perjanjian ditandatangani,” jelas Novita Sari.

Hasil mediasi yang dilakukan oleh Disnakertrans tersebut, tambah Novita, pimpinan PT BCC berjanji akan membayarkan gaji sebesar Rp25 juta yang ditransfer kepada Rustam selaku pengelolah stockpile di Teluk Sepang.

“Setelah ditransfer uang 25 juta kemudian dibagikan merata kepada pekerja dan rata-rata mendapatkan gaji Rp 200-550 berdasarkan besar gaji yang belum dibayarkan. Sisa gaji sampai saat ini yang belum dibayarkan sebesar 140 juta rupiah,” ringkas ibu Novita.

Di tempat yang berbeda, Suarli Sarim dari Kanopi Hijau Indonesia, mengatakan sebelum kami memfasilitasi buruh perempuan untuk bertemu dengan ke pihak Disnakertrans, tapi belum ada niat baik dari perusahaan hal ini dibuktikan hilangnya batubara di stockpile PT BCC.

“Maka kami meminta Gubernur Bengkulu selaku pemimpin untuk memerintahkan perusahaan untuk segera membayar upah buruh yang belum dibayar, jika tidak diindahkan maka selaku Gubernur harus memberikan hukuman kepada perusahaan PT. BCC,” tutup Suarli.

Di tempat yang berbeda, Disnaker Provinsi Bidang Hubungan industrial dan Pengawasan Ibrahim mengatakan bahwa benar adanya ratusan ibu-ibu yang bekerja sebagai Buruh harian lepas yang belum dibayar.

“Iya, sampai saat ini, belum ada penyelesaian, terakhir kesepakatan mereka sama-sama untuk menjual batu bara, tapi kabarnya sampai saat ini, batu baru belum laku,” jelasnya.

Sebagai pemangkuan kebijakan yang membidangi, ketika ditanya solusi, sampai saat ini ia mengatakan pemerintah belum ada solusi bagaimana dan harus seperti apa.(Red*)

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *