Eco Literacy Sejak Dini Upaya Penyelamatan Bumi Eco Literacy Sejak Dini Upaya Penyelamatan Bumi
Oleh: Faiz Romzi Ahmad*   Masyarakat yang melek secara ekologis akan menjadi masyarakat yang berkelanjutan, yang tidak merusak lingkungan di mana mereka bergantung. Debby... Eco Literacy Sejak Dini Upaya Penyelamatan Bumi

Oleh: Faiz Romzi Ahmad*

 

Masyarakat yang melek secara ekologis akan menjadi masyarakat yang berkelanjutan, yang tidak merusak lingkungan di mana mereka bergantung.

Debby Lukito memaparkan istilah eco literacy pertama kali dimunculkan pada tahun 1997 oleh fisikawan Fritjof Capra, yang mendirikan Center for Ecoliteracy, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk pendidikan untuk kehidupan yang berkelanjutan. Ringkasnya, eco literacy merupakan kepanjangan dari ekologi literasi, yang merupakan kemampuan untuk memahami sistem alami yang memungkinkan kehidupan di bumi yang mendukung keberlanjutan kehidupan di bumi atau sustainability life.

Pada perhelatan World Book Day 2020: Indonesia Online Festival ke-13, Debby Lukito Goeyardi menyapa pagi para peserta diskusi dari ponselnya. Tema diskusinya cukup menarik, Mengenal Eco Literasi melalui Bercerita. Selaras dengan tema, sebab Debby merupakan sosok pegiat literasi dan penulis yang fokus menulis buku anak, belasan buku telah ia terbitkan.

Saya jadi teringat perjalanan ke wilayah adat Kanekes (Baduy) beberapa tahun silam, bagaimana masyarakat adat di sana memegang teguh konsep kesejahteraan lingkungan. Kesadaran ekologis masyarakat Baduy selangkah lebih maju, wacana penyelamatan lingkungan sudah mereka aplikasikan dalam kesehariannya. Kita bisa bergeser pola pikir, dari yang tadinya cenderung mengabaikan ekologis menjadi pribadi yang memegang teguh konsep kesejahteraan lingkungan, seperti yang masyarakat Kanekes lakukan.

Sering kita ketahui, gerakan penyediaan buku-buku untuk umum sebagai bentuk memudahkan akses mendapatkan buku dan pengejawantahan komitmen membangun literasi anak bangsa. Pegiat literasi tidak terbatas pada wacana tersebut, dalam perkembangannya banyak istilah-istilah lain yang muncul, tapi tetap memiliki kesamaan nilai, salah satunya adalah eco literasi. Debby mengajak para pegiat literasi bergeser membangun wacana kesadaran ekologis untuk semua pihak terutama sejak usia dini.

Pandemi Covid-19 adalah alat ukur bahwa manusia belum melek lingkungan, abai dan menggampangkan sesuatu yang berkaitan dengan ekologis adalah praktik kesehariannya. Menyelamatkan lingkungan hidup harus dimulai sejak dini, sebab manusia akan bergantung pada lingkungan yang menjadi tempat hidup mereka secara berkelanjutan.

Manusia dengan Alam

Alam mesti dipandang sebagai satu kesatuan yang tak terpisah dengan manusia. Interaksi manusia dengan alam menentukan nasib generasi manusia selanjutnya. Jika interaksi manusia dengan alam buruk, maka ancaman menjadi bayang-bayang umat manusia. Sikap manusia terhadap alam memiliki jejak yang panjang. Manusia Indonesia misalnya, para leluhur bangsa Indonesia telah menanamkan kesadaran ekologis sejak dulu, rutinitas kerja bakti, sedekah bumi, bersih desa, bumi sudha dan tradisi-tradisi lain yang sifatnya memangku alam. Adat, budaya, tradisi yang hidup pada leluhur dibangun dengan tiga hal: hidup yang sederhana, bersahabat dengan alam, dan semangat kemandirian.

Sejak awal peradaban bangsa kita sangat bersahabat dengan alam, masyarakat adat di setiap suku Nusantara mempunyai tradisi tersendiri, mereka menggantungkan diri pada alam, mulai dari mata pencaharian, sampai tempat tinggal.

Debby berujar bahwa menjadi ekoliterat berarti memahami prinsip-prinsip ekosistem dan menggunakan prinsip-prinsip tersebut untuk menciptakan komunitas manusia yang berkelanjutan.

“Masyarakat yang melek secara ekologis akan menjadi masyarakat yang berkelanjutan yang tidak merusak lingkungan alam tempat mereka bergantung,” ujarnya.

Debby menekankan bahwa masyarakat yang melek lingkungan  akan menjadi masyarakat yang tidak merusak lingkungan alam tempat mereka bergantung

“Hidup ini tak terlepas dari konsekuensi. Hukum sebab-akibat berlaku. Banyak istilah yang digunakan untuk mengingatkan kita seperti ‘apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai’, ‘tak ada asap, tak ada api’ dan masih banyak lagi,” tuturnya.

Manusia dengan kehebatan akalnya bisa menghasilkan kemajuan peradaban, tentunya demi kemanfaatan manusia itu sendiri, sehingga tindakan mengeksplorasi alam tidak bisa dinafikan.

“Dengan akalnya, manusia bisa menghasilkan suatu budaya yang tentunya lebih maju dibanding dengan makhluk hidup lainnya. Manusia juga bisa menciptakan teknologi untuk mengeksplorasi alam yang awalnya bertujuan buat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sayangnya, seperti kita semua rasakan dan alami, penggunaan teknologi yang berlebihan oleh manusia akhirnya menimbulkan masalah baru,” kata Debby.

Dengan berkaca pada hal-hal tersebut, perilaku leluhur bangsa Indonesia harus terwariskan dan dilanjutkan oleh generasi sekarang demi keberlangsungan hajat hidup manusia di masa yang akan datang.

Menumbuhkan Kesadaran Ekologis Sejak Dini

Dalam paparannya di diskusi daring (27/04) Debby berujar bahwa Pandemi Covid-19 adalah tema yang pas untuk mengajarkan eco literasi pada anak. Sebagai seorang penulis, Debby berbagi tips untuk membangun semangat eco literasi dengan bercerita pada anak, seperti berikut:

  • Sesuaikan cerita dengan kemampuan membaca dan minat si anak. Misalnya: untuk anak usia 3 tahun, mereka biasanya menyukai cerita dengan tokoh binatang. Anak usia di atas balita menyukai cerita dengan tokoh anak yang sebaya dengannya.
  • Pilihlah buku yang memiliki jalan cerita. Jalan cerita bisa membuat emosi serta perasaan anak terlibat saat membaca atau mendengarkan cerita tersebut.
  • Pilihlah buku dengan visual menarik dan berisi pesan moral yang tidak menggurui.
  • Setelah selesai membaca, ajaklah anak untuk berdiskusi sederhana tentang isi cerita dan aksi apa yang bisa diambil sesuai tema buku tersebut. Tumbuhkan rasa empati, toleransi dan kecintaan pada lingkungan melalui diskusi dan aksi yang akan dilakukan.
  • Jadikan kegiatan ecoliteracy sederhana ini sebagai sebuah ‘kebiasaan’ hingga kita tidak merasa hal itu sebagai suatu tuntutan. Kuncinya ada pada konsistensi.

Dalam diskusi daring selama 90 menit tersebut, Debby mengajak para peserta diskusi untuk meningkatkan pemahaman diri tentang kesadaran menjaga alam. Terutama membawa gerakan peduli lingkungan kepada anak-anak usia dini.

Berbicara tentang ‘anak usia dini’, maka ruang lingkup Pendidikan Anak Usia Dini bisa dijabarkan sebagai berikut; bayi (0-1 tahun), balita (2-3 tahun), kelompok bermain (3-6 tahun), dan sekolah dasar kelas awal (6-8 tahun). Perkembangan setiap anak tentunya berbeda dan tergantung lingkungan tempat anak tinggal dan pengasuhan orang tua serta peran sekolah/ pendidik (jika sudah sekolah). Namun, satu hal yang sama; anak usia dini memiliki sifat suka meniru. Anak belajar lewat meniru. Meniru sebenarnya adalah proses pembelajaran secara alami oleh semua makhluk hidup. Tidak perlu metode belajar yang melulu berpatok pada teori-teori ecoliteracy, tapi lebih baik memberikan contoh langsung dan aksi langsung yang melibatkan anak, papar Debby.

Eco literasi melibatkan seluruh lapisan masyarakat, keluarga dan tiap individu. Namun, yang terpenting adalah individu. Satu saja ada yang mencetuskan suatu gerakan dan berani mewujudkannya, tentunya gerakan itu akan menjalar ke segala arah. Banyak proyek lingkungan hidup yang bisa diterapkan, mulai dari yang sederhana hingga melibatkan banyak pihak, terpenting adalah konsistensi.

“Semua ini merupakan peran bersama antara keluarga, masyarakat dan sekolah. Di sekolah, gerakan peduli lingkungan sudah harus diterapkan pada peserta didik sejak dini untuk membangun eco literacy. Fungsi sekolah sebagai pewaris nilai dan budaya bangsa harus dilaksanakan, salah satunya dengan mengintegrasikan setiap pembelajaran di sekolah dengan kegiatan eko literasi,” harapnya.

Gerakan penyadaran eko literasi sejak dini ini adalah untuk membangun kesadaran lingkungan sedini mungkin, agar energi eko literasi sejak kecil itu dapat bertrasnfromasi hingga tercipta generasi yang sadar akan persoalan ekologis.

“Masa depan tergantung pada setiap individu. Saling mengingatkan, bergandengan untuk bumi seperti apa yang ingin kita wariskan untuk genereasi yang akan datang?” pungkas Debby, “Bumi bukan warisan, tapi titipan untuk anak-cucu kita,” Heni Wardatur Rohmah menutup diskusi.

*Relawan Cendekiawan Kampung

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *