Bencana, Literasi Ketujuh Bencana, Literasi Ketujuh
Oleh : Egi Azwul* Indonesia terkenal sebagai supermarket bencana. Begitu Ariful Amir, Sekjen PP FTBM Indonesia, mengantarkan topik pembicaraan pada diskusi daring edisi kedelapan... Bencana, Literasi Ketujuh

Oleh : Egi Azwul*

Indonesia terkenal sebagai supermarket bencana. Begitu Ariful Amir, Sekjen PP FTBM Indonesia, mengantarkan topik pembicaraan pada diskusi daring edisi kedelapan World Book Day 2020.

Neni Muhidin, sang pembicara, memunculkan gagasan tentang Bencana dan Literasi Ketujuh sebagai topik diskusi daring. Ia mengawalinya dari enam literasi dasar yang diperkenalkan Kemendikbud: Literasi Baca-Tulis, Literasi Numerasi, Literasi Sains, Literasi Digital, Literasi Finansial, serta Literasi Budaya dan Kewargaan.

Ia kurang sepakat jika bencana menjadi bagian literasi sains karena ilmu pengetahuan alam yang istilah lamanya sebagai ilmu bumi. Lebih modern, masyarakat mengenal istilah pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim yang dikenal sebagai bagian dari literasi sains. Penyair ini membuka pengertian-pengertian dasar tentang literasi sains sesuai kesepakatan World Economy Forum Unesco. Baginya, tidak ada satu lema disaster dalam penjelasan literasi sains yang di dalamnya memang membahas geografi, pengurangan risiko bencana, dan iklim. Neni mengajak pemirsa diskusi agar menjadikan bencana sebagai keseharian. Jika enam literasi dasar ini adalah keseharian, bencana juga seharusnya demikian. Sebab, bencana ini tidak sekadar sebagai peristiwa, cara berpikirlah yang selama ini memolanya.

Dalam bencana—menurut Neni—ada  siklus, sebelum, saat, dan setelah bencana. Ada semacam rangkaian dalam bencana yang terjadi tidak tiba-tiba. Pertanyaannya, apa yang mesti dipersiapkan ketika bencana terjadi? sambungnya.

Bawah sadar sebagai bencana masih menganggapnya sekadar sebagai peristiwa. Kita tahu, tapi tidak ingin. Apa yang harus dipersiapkan sebelum bencana terjadi? Indonesia memiliki jejak panjang tiga jenis bencana; bencana alam, nonalam, dan sosial. Neni pun berharap bahwa bencana dapat didorong sebagai literasi tersendiri. Ia menganggap banyak pengertian bencana direduksi menjadi bagian kecil dari literasi sains, “Dunia seolah bilang, sudahlah tidak usah memasukkan bencana. Seperti dalam kebudayaan lokal saya, jangan membicarakan bencana, jika dibicarakan, maka ia akan datang”.

“Bencana dipersempit sebagai fenomena alam dalam literasi sains, tidak dilihat dari dampak dan keberlanjutan terhadap kehidupan dan ekosistem yang ada,” timpal Ariful.

Berdasarkan pantauan Neni Muhidin, Indonesia berada di dalam satu skema besar yang disebut framework. Dunia melompat dari Millenium Development Goals ke Sustainable Development Goals, persis tema bencana ketika membuat timeline-nya, bencana baru dibicarakan sebagai kebutuhan global sejak peristiwa Aceh 2004. Peristiwa saat itu, menandai Hyogo Framework for Action 2005-2015 dan Sendai 2015-2030. Itu pun masih dimaknai sebagai bencana alam dari dua kesepakatan global yang terlahir di negeri ini. Sadar atau tidak, apa yang ingin dipraktikkan adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana alam. Bukan semacam bencana wabah seperti sekarang. Jika melihat ke belakang, Neni memberi tahu soal Flu Spanyol pernah terjadi pada tahun 1918, yang kemudian ditulis oleh Arif dikenal Pageblug. Dalam kebudayaan Kaili, yang ditulisnya sebagai rajanya penyakit.

Neni membayangkan bencana sebagai literasi ketujuh dengan pengertian kemampuan individu untuk memahami semua siklus bencana. Bencana adalah keseharian orang Indonesia atau dalam pengertian luas menjadi keseharian hari ini. Ia membaca buku Dunia Tanpa Manusia – The World Without Us, karya Alan Weisman, secara provokatif mempertanyakan, “Apa yang terjadi dengan bumi pada 50-100 tahun ke depan?”.

Apa yang terjadi hari ini? Bencana nonalam tidak butuh 100 tahun karena populasi manusia meningkat di dunia dan manusia semakin eksploitatif. Ada lima butir rekomendasi terlahir, yang menjadi arah kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia; kebijakan tata ruang yang mengadaptasi alam, pelibatan akademisis, kepemimpinan lokal, sistem peringatan dini, dan edukasi. Kelima butir rekomendasi tersebut disampaikan Presiden Jokowi Pada rapat kordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Surabaya, 2 februari 2019. Saat butir-butir ini lahir merespon peristiwa gempa dan tsunami di Palu September 2018, juga merespon gempa di Lombok. Belum satu tahun butir ini hadir, bencana nonalam terjadi, yaitu virus corona. Butir-butir ini harusnya semakin banyak. Kritik muncul terhadap pemerintah yang dianggap antisains dan denail.

Lantas, kenapa literasi bencana sangat diperlukan? Sebetulnya, banyak sekali bencana alam di Indonesia, dan yang terjadi itu sebenarnya hanya mengulang saja. Semisal kejadian tsunami di Palu, 100 tahun yang lalu tsunami di teluk Palu itu pernah terjadi. Atau tsunami di Aceh, beberapa abad yang lalu di Aceh pernah terjadi tsunami. Atau meletusnya Gunung Krakatau, dan bahkan meletusnya gunung Tambora. Namun adakah saksi mata yang bisa menceritakan kejadian-kejadian tersebut? Adakah catatan yang menceritakan peristiwa tersebut?

Penggalan puisi yang dideklamasikan Neni Muhidin tersebut adalah sebuah respon dari Voltaire kepada lambannya pemerintah Spanyol yang mengatakan bahwa gempa adalah takdir. Selain itu, ia juga mengkritik terjadinya kekontrasan antara apa yang terjadi di London yang tenang dengan Lisbon yang bau amis darah. Gempa yang terjadi di Lisbon, Portugal, memakan tidak sedikit korban jiwa. Penggalan puisi tersebut dirangkai Voltaire dengan penuh kritik dan pertanyaan yang menggebu-gebu.Teringat sebuah lagu dari Iwan Fals saat mengenang korban meletusnya Gunung Galunggung. Iwan fals menulis kata-kata yang sangat menarik,

Hey Tuhan

katanya Engkau Maha Bijaksana

tolong pindahkan Galunggung ke kota

dimana tempat segala macam dosa

Antara Voltaire dan Iwan Fals sebetulnya sama-sama menyatakan satu hal, bahwa manusia hanya makhluk kecil tak berdaya, yang tak mampu membaca tanda-tanda alam dan lemah menyelami lautan ilmu pengetahuan. Tidak akan terjadi banyak korban di Lisbon, jika pemahaman tentang bencana bisa diketahui. Tidak akan terjadi korban jiwa pada saat Gunung Galunggung meletus, jika masyarakat di Tasikmalaya mengerti pertanda. Dan tidak akan terjadi korban Covid-19, jika kita bisa memahami apa itu pandemi?

Ariful Amir menjelaskan sebuah cerita kearifan lokal di Sulawesi Tengah, tepatnya di kota Palu. Cerita tentang anjing Sewari Geding bertarung dengan belut,  yang merepresentasikan kedua binaang itu sebagai gempa dan tsunami. Literasi Bencana secara kearifan lokal sebetulnya sudah ada, namun cerita tersebut tidak hidup dan tidak dihidupkan. Sehingga, cerita lokal yang sudah ada kemudian hilang, sampailah istilah baru dari literasi sains yang disebut likuifaksi.

Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Palu itu sendiri baru mengenal istilah likuifaksi setelah mendapatkan penjelasan dari para ahli. Selain itu, pemahaman tsunami pun digeneralisir, biasanya sebelum tsunami datang, air surut terlebih dahulu, setelah beberapa menit kemudian datanglah gelombang itu. Padahal, tsunami di Aceh dengan tsunami di Palu itu sangatlah berbeda.

Seorang filolog dan penulis, Sinta Ridwan, menceritakan bahwa di berbagai daerah sebetulnya sudah ada cerita kuno bersifat lokal dengan berbentuk hikayat, manuskrip atau babad. Namun, yang terjadi kemudian adalah kenapa orang-orang tidak membaca itu dan tidak mengedukasi masyarakat dengan babad yang berpoles dengan mitologi itu. Penulis pun menambahkan, sebetulnya jika mitologi itu sangat kuat dan dilaksanakan oleh masyarakat adat tentu masyarakat akan aware dan berhati-hati.

Neni Muhidin menegaskan, bahwa literasi bencana di Indonesia sangat minim dan perlu disinergikan dengan program pemerintah seperti program Desa Tanggap Bencana, projek unggulan dari BNPB. Program Desa Tanggap Bencana ini sebetulnya sudah bagus, namun sayangnya terjadi penyeragaman. Padahal, kondisi alam setiap daerah itu berbeda-beda.

Ismail Pong, seorang pegiat literasi mengutip sebuah buku karangan Jared Diamond yang berjudul Collapse. Dia mengatakan bagaimana bangsa Viking, peradaban suku Maya gagal dalam memutuskan apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana. Peradaban kedua bangsa tersebut adalah sebuah contoh kegagalan, yaitu kegagalan dalam mengambil keputusan saat menghadapi bencana alam, perubahan iklim dan konflik sosial.

Sebenarnya tujuan dari literasi bencana itu adalah untuk menghidupkan Common Sense. Pada saat pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pada tanggal 14 Maret 2020 sebagai darurat nasional, barulah orang-orang sadar dengan kebersihan. Orang-orang baru menyadari betapa pentingnya PHBS atau perilaku hidup bersih dan sehat. Akan tetapi, pengetahuan masyarakat cenderung latah, sehingga Common Sense tidak terbentuk dengan baik. Kita lihat saja, betapa kewalahannya masyarakat dalam menjalani karantina mandiri, PSBB, lockdown dan lain-lain. Sehingga tantangan di lapangan akan terasa berat, padahal wabah Covid-19 sudah menyebar.

Apa hubungan literasi bencana dengan ketangguhan? Apakah literasi bencana akan menyelamatkan atau tidak? tanya Ariful Amir.

Neni Muhidin menjawab bahwa mitigasi atau upaya pencegahan, atau pengurangan risiko tidak ada gunanya jika tidak menyelamatkan. Literasi bencana ini menjadi penting akan berkaitan dengan ketangguhan individu, ketangguhan komunitas, dan ketangguhan bangsa Indonesia. Dengan literasi bencana, ke depannya bertujuan agar masyarakat Indonesia tidak berasumsi bahwa urusan bencana hanya kewajiban Pemerintah, BNPB, SARS, TNI, BPBD dan PMI.

Ada cerita lokal yang menarik, cerita ini tumbuh di masyarakat bantaran sungai Ciwulan, yang memanjang dari hulu Gunung Cikuray sampai muara di Kabupaten Tasikmalaya. Konon, di sungai Ciwulan ada beberapa hantu yang bernama Bulu Carang dan Leled Samak. Kedua hantu ini hidup di sepanjang sungai dan selalu memantau keadaan sungai, jika ada orang yang membuang sampah sembarangan maka orang itu akan dililit oleh hantu Leled Samak. Dan apabila ada orang yang mengeksploitasi sumber daya alam berupa pasir atau batu, maka orang tersebut akan dikubur oleh Bulu Carang.

Kedua hantu ini seperti dongeng, namun cerita lokal berbentuk literasi bencana ini akan mengurangi dampak dari eksploitasi alam. Sehingga bencana yang akan terjadi karena eksploitasi alam akan berkurang. Sebenarnya masih banyak literasi bencana yang bersifat lokal di setiap daerah, dan untuk menghidupkan cerita tersebut adalah tantangan tersendiri untuk pegiat literasi bencana.

Neni Muhidin menutup diskusi tersebut dengan memberikan penjelasan ulang apa yang dimaksud dengan Literasi Bencana. Lalu mendeklamasikan satu stanza sebuah puisi:

Seeing this mass of victims, will you say, “God is avenged. Their death is the price of their crimes”? What crime, what fault had the young committed, Who lie bleeding at their mother’s breast? Did fallen Lisbon indulge in more vices Than London or Paris, which live in pleasure? Lisbon is no more, but they dance in Paris.

Voltaire

1755, Lisbon Portugal

 

*Cerpenis dan Musisi

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *