Belajar Menaklukkan Banjir Dari Negeri Kincir Angin Belajar Menaklukkan Banjir Dari Negeri Kincir Angin
Oleh : Sabar Ardiansyah, S.ST* GerbangBengkulu – Musim hujan selalu menjadi ancaman bagi wilayah langganan banjir. Buruknya sistem drainase, minimnya lahan untuk resapan air,... Belajar Menaklukkan Banjir Dari Negeri Kincir Angin

Oleh : Sabar Ardiansyah, S.ST*

GerbangBengkulu – Musim hujan selalu menjadi ancaman bagi wilayah langganan banjir. Buruknya sistem drainase, minimnya lahan untuk resapan air, dan bendungan panangkal rob merupakan beberapa permasalahan yang tidak kunjung terselesaikan di negeri ini.

Kota-kota besar di Indonesia banyak sekali yang menjadi langganan banjir saat musim hujan. Tak terkecuali ibu kota, Jakarta. Permasalahan banjir di wilayah ibu kota ini selalu terulang dari tahun ke tahun. Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah, tetapi semua itu belum berhasil membendung banjir yang datang setiap tahun. Banjir masih menjadi ancaman bagi penduduk ketika musim hujan datang.

Mengatasi permasalahan ini, alangkah baiknya kita belajar dari negeri Belanda, Sang Penakluk Banjir. Bagaimana negeri yang terkenal dengan keju, bunga tulip, dan kincir angin ini mampu mengatasi problem banjir selama berabad-abad yang telah banyak menelan korban jiwa. Rendahnya daratan Belanda menjadi alasan untuk berjuang melawan banjir. Sepertiga wilayah Belanda berada di bawah permukaan air laut. Titik tertinggi rata-rata 326 m berada di Vaalseberg dan titik terendah 6,74 m di bawah permukaan air laut yang berada di Nieuwerkerk aan Ijssel. Karena itu Belanda disebut Netherland yang dalam bahasa Belanda “neder” bearti rendah dan “land” bearti tanah.

Bendungan

Supaya belanda tetap mengapung, seribu tahun yang lalu telah dibangun bendungan atau tanggul-tanggul, danau-danau dikeringkan, polder dibuat, dan ketinggian air dikontrol. Luar biasa usaha yang dilakukan Belanda ini. Daya juangnya sangat tinggi. Tidak menyerah dan tidak lari dari kenyataan alam.

Sampai suatu ketika, tahun 1953 gelombang laut setinggi 30 m menerjang pantai Propinsi Zeeland mengaibatkan tanggul-tanggul rusak dan banjir besar menewaskan 1.835 orang dan memaksa 110.000 mengungsi. Setelah peristiwa tragis inilah Proyek Delta Works dicanangkan. Dalam kurun waktu 39 tahun Delta Works telah menyelesaikan 13 bendungan (dam). Bendungan pertama selesai pada 1958 di sungai The Hollandse Ijssel, sebelah timur Rotterdam. Kemudian dibangun bendungan the Ooster Dam (the Oosterschelde Stormvloedkering), yang mencapai 11 kilometer. Bendungan ini membentengi seluruh daratan laut Zeeland yang langsung berhadapan dengan bagian Laut Utara.

Terakhir, bendungan Maestlantkering di muara Nieuwe Waterwag pada 1997 diselesaikan. Bendungan ini menjad gerbang masuk ke pelabuhan Rotterdam. Tanggul terdiri dari dua bagian lengan dengan panjang setiap lenggannya setara dengan ketinggian menara Eiffle di Prancis.

Hebatnya, kedua lengan raksasa Meastlantkering ini bisa dibuka-tutup secara otomatis. Lengan yang berfungsi sebagai gerbang dan bendungan ini akan menutup secara otomatis jika terjadi badai Laut Utara mencapai ketinggian tiga meter. Sejak dibangunnya bendungan ini hanya pernah ditutup sekali pada 8 November 2007. Selebihnya, bendungan ini menjadi obyek wisata dan pendidikan.

Kini banjir besar tidak lagi menggulung Belanda. Wilayah yang rendah tidak membuat penduduk Belanda takut dihantam banjir. Kesungguhan dari Proyek Delta Works mampu menaklukan banjir. Kunci sukses dari Delta Works ini terdapat pada konsistensi perencanaan dan keinginan untuk terus mencari solusi terbaik yang melibatkan semua pihak. Masterplan yang telah dicanangkan dengan sungguh-sungguh diaplikasikan. Para ahli dan praktisi dilibatkan untuk mencari inovasi terbaik.

Sistem Polder

Selain bendungan, Belanda menerapkan sistem reklamasi bahan melalui sistem polder yang kompleks, yang mulai dikembangkan pada abad ke-11. Polder merupakan sistem tata air tertutup dengan elemen meliputi tanggul, pompa, saluran air, kolam retensi, pengaturan lansekap lahan, dan instalasi air kotor terpisah. Kemudian pada abad ke-13 sistem polder ini disempurnakan dengan penggunaan kincir angin sebagai pompa air.

Sistem polder merupakan suatu daerah yang dikelilingi tanggl utau tanah tinggi, dibangun agar air banjir atau genangan dapat dicegah dan pengaturan air di dalamnya dapat dikuasai tanpa dipengaruhi keadaan di luarnya. Polder juga bisa diartikan sebagai tanah yang direklamasi.

Pada sistem ini, air yang berada di wilayah polder dialirkan ke tempat penampungan untuk dibuang ke sungai utama melewati tanggul dengan pompa kincir angin. Sedangkan tata kelolah sistem berbasis partisipasi masyarakat yang berada dalam wilayah polder itu sendiri.

Pemukiman masyarakat yang berada dalam sebuah sistem polder secara mandiri merancang, mengoperasikan, dan memelihara sistem polder-nya. Pemerintah dalam hal ini hanya bertanggungjawab mengintegrasikan sistem-sistem polder, serta membangun, mengoperasikan, dan memelihara sungai-sungai utama tempat pembuang air.

Untuk menjaga agar kawasan polder tidak tergenang air, pompa air wajib terus beroperasi. Pompa kincir angin menjadi pilihan yang tepat bagi Belanda, karena wilayahnya memiliki basis angin yang baik. Banyaknya pompa polder ini membuat Belanda sangat terkenal dengan kincir anginnya.

Sistem polder selain mampu mengendalikan air, juga dapat digunakan sebagai objek wisata atau rekreasi, lahan pertanian, perikanan, dan lingkungan industri serta perkantoran.

Ekodrainase

Ternyata belanda tidak hanya canggih dalam bendungan dan kincir angin. Belanda mempunyai sistem eco-drainage (ekodrainase) yang sangat ramah lingkungan. Eko artinya ekologi yaitu hal yang berkaitan dengan alam, sedangkan drainase adalah mengalirkan. Selain dapat mengurangi peluang banjir, sistem drainase ini juga mampu menjaga kualitas air.

Implementasi dari ekodrainase dapat dilihat di Utrech. Prinsip kerjanya memilah air hujan yang turun menjadi dua, yaitu air yang dianggap kotor dan air yang dianggap bersih. Air bersih dari hujan itu seperti yang jatuh dari atap rumah, sedangkan air kotor itu air yang jatuh pada permukaan jalan yang penuh kendaraan motor.

Kemudian air hujan dari atap ini dialirkan ke suatu tanah rerumputan yang disebut “wadi”. Pada wadi ini air disaring rerumputan sehingga dapat langsung terserap ke dalam tanah. Jadi air hujan yang turun tidak serta-merta dialirkan ke kanal atau sungai menuju laut. Cara ini membuat volume air buangan yang mengalir (run-off) dapat dikurangi sehingga tidak terlalu membebani sistem bendungan di tepi laut.

Kini, sekitar 16 juta penduduk Belanda yang menempati 41.548 km persegi dapat hidup tenang tanpa banjir. Banyak negara di dunia belajar ke negeri kincir angin ini untuk membangun bendungan yang kokoh menaklukan banjir dan mengelolah air.

Bagaimana dengan Indonesia? Upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat kita dalam mengantisipasi banjir ternyata masih jauh dari cukup. Berkitan upya ini, BMKG siap membantu memberikan informasi cuaca dan iklim di seluruh wilayah Indonesia. Tekad kuat, inovasi, dan investasi lebih besar menjadi kunci menaklukan banjir, layaknya Negeri Kincir Angin.

*Penulis adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Email  sabar.ardiansyah@gmail.com

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *