Bangkitkan Semangat Perjuangan Pemuda Di Sektor Bisnis Pertanian Menuju Moderenisasi Pertanian Bangkitkan Semangat Perjuangan Pemuda Di Sektor Bisnis Pertanian Menuju Moderenisasi Pertanian
(Foto: gubuk.desa.id)
Oleh : Ridha Rizki Novanda, SE* “Tingginya tingkat pengangguran disektor pertanian membutuhkan pemuda untuk memperluas lapangan pekerjaan dan menumbuhkan petani muda modern baru” Indonesia merupakan... Bangkitkan Semangat Perjuangan Pemuda Di Sektor Bisnis Pertanian Menuju Moderenisasi Pertanian

Oleh : Ridha Rizki Novanda, SE*

“Tingginya tingkat pengangguran disektor pertanian membutuhkan pemuda untuk memperluas lapangan pekerjaan dan menumbuhkan petani muda modern baru”

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki jumlah total penduduk sebanyak 250 juta jiwa yang terebar dari sabang hingga maraoke. Pertumbuhan penduduk di Indonesia relatif besar hingga 1.4 persen pertahun yang menyatakan bahwa akan semaakin banyak manusia yang hidup di Indonesia. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk acap kali menjadi banyak kendala bagi negeri pertiwi ini. Salah satu kendala yang membebani negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar yaitu pengangguran. Penganguran menjadi momok besar bagi Indonesia karena lapangan pekerjaan sudah tidak mampu menampung jumlah angkatan kerja yang akan bekeerja.

Lebih tragis lagi, momok pengangguran merupakan salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tingginya tingkat pengangguran akan berkorelasi positif menurunkan tingkat pertumbuhan Gross Domestic Bruto di Indonesia. Pertumbuhan GDP sangat penting bagi negara yang juga sangat berhubungan dengan Indeks Pembangunan manusia (IPM) di Indonesia. Tingkat IPM yang rendah dari suatu bangsa melambangkan bahwa bangsa tersebut sulit berkembang dan menjadi bangsa yang terbelakang. Hal ini lah yang ditakutkan bagi negara ini, negara yang diperjuangkan dengan darah dan penderitaan selama 350 tahun lamanya jangan sampai berakhir menjadi negara yang terbelakang.

Bagaimana dngan tingkat pengangguran di Indonesia sendiri?.. hal inilah yang harus benar-benar dipertanyakan dengan serius. Menurut BPS (2015), tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 7.24 juta jiwa. Tingginya tingkat pengangguran tersebut ternyata meningkat dari tahun ketahun. Nilai pengangguran meningkat sebesar 90 ribu juta jiwa dari tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya potensi kehancuran pondasi ekonomi Indonesia yang berbelit dengan permasalahan pengangguran.

Korban dari kurangnya lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja Indonesia ialah pengangguran diusia muda. Pemuda sebagai pejuang pembangunan ekonomi bangsa kandas perjuangannya sebagai pengangguran di negeri ini. Kondisi pengangguran di usia muda ternyata menyumbang keterpurukan ekonomi bangsa ini karena meningkata dari tahun ketahunnya. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional 2015, tingkat pengangguran usia muda mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Dimana pengangguran laki-laki memiliki rata-rata pertumbuhan sebesar 5.618 persen dan perempuan lebih banyak menganggur yaitu sebesar 7.56 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran di pedesaan lebih besar yaitu 9.826 persen dibandingkan tingkat pengangguran perkotaan yaitu sebesar 3.703 persen. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa pengangguran anak muda yang tersebar baik laki-laki maupun perempuan dan baik di perkotaan maupun pedesaan.

Bila kita amati dari pengangguran di pedesaan yang tinggi menunjukkan bahwa kurangnya minat generasi muda untuk bekerja di pedesaan. Hal ini terbukti bahwa tingginya tingkat migrasi dari desa ke areal perkotaan seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, D.Istimewa Yogyakarta, dan Banten mencapai 80 persen dan di dominasi oleh generasi muda. Semakin ditinggalkannya pedesaan menunjukan bahwa akan semakin terhambatnya pembangunan pedesaan. Pedesaan yang di dominasi oleh orang usia tua dapat menghambat pembangunan pedesaan dan kondisi ini akan terus menjadi permasalahan dipedesaan yang tiada ujungnya.

Pembangunan di pedesaan sangat  berhubungan dengan pembangunan sektor pertanian. Pembangunan pedesaan di Indonesia di dominasi oleh sektor pertanian yang perkembangannya semakin menurun karena areal pertanian mulai berubah menjadi areal non pertanian. Sehingga dampaknya ialah pengangguran di sektor pertanian juga mengalami peningkatan. Sektor pertanian merupakan sektor yang menyumbang pengangguran paling besar diantara sektor lainnya. Sektor pertanian secara luas menyumbang 32.9 persen pengangguran di Indonesia dibandingkan oleh sektor yang lainnya. Tingginya sumbangan pengangguran di sektor pertanian dapat mengindikasikan bahwa lapangan usaha pertanian tidak dapat menampung sejumlah tenaga kerja atau pindahnya tenaga kerja pertanian ke sektor lapangan usaha lainnya. Minat akan sektor pertanian semakin menurun dari tahun ke tahunnya. Permasalahan ini semakin pelik dikala sektor pertanian yang semakin ditinggalkan.

Minat  generasi muda akan sektor pertanian semakin menurun dari tahun ke tahunnya. Sektor pertanian mulai kehilangan sosok-sosok pejuang agraria yang berjiwa muda penuh semangat juang. Dan sekarang di pedesaan tersisa tenaga kerja berusia lanjut dengan produktifitas yang rendah. Tenaga kerja usia tua berproduktifitas rendah mencapai 35 persen dan didominasi oleh petani skala kecil dan sulit menghadapi risiko pertanian yang tinggi. Bagaimana pertanian kita akan berkembang bila terjadi krisis generasi muda ?…

Tingginya tingkat pengangguran di sektor pertanian yang terjadi di Indonesia pada tahun 2015 diindikasikan sebagai salah satu fenomena yang dapat menurunkan pendapatan nasional di sektor pertanian. Oleh karena itu dibutuhkan pemuda-pemuda kreatif untuk membangun sektor pertanian berkelanjutan sesuai dengan jiwa pemuda yang ambisius, kreatif dan inovatif. Salah satu solusi yang dapat menyelamatkkan sektor pertanian ialah perkembangan wirausaha muda. Wirausaha merupakan individu-individu yang berorientasi kepada tindakan, memiliki motivasi tinggi dan berani mengambil risiko serta bermotivasi kedepan (Pambudy et al. 2005).  Lahirnya wirausaha yang dapat membuka lapangan pekerjaan ini merupakan suatu hal yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menteri Koperasi dan UKM, A.A.G.N Puspayoga menyatakan bahwa jumlah populasi wirausaha di Indonesia baru mencapai angka 1.65 persen dari total populasi usia produktif, angka ini sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, seperti Singapura sebesar 7 persen, Malaysia 5 persen, dan Thailand 3 persen. Dan indonesia harus bisa mencapai 2 persen dari total populasi. Ketertinggalan Indonesia di mata ASEAN akan berpengaruh terhadap  daya saing negara kita dalam Masyarakat ekonomi ASEAN.

Sebagai negara agraris dengan sumber daya alam yang melimpah, sektor pertanian Indonesia merupakan lahan bisnis yang masih sangat potensial untuk dikembangkan oleh generasi muda. Pengembangan entrepreneurship dibidang pertanian sangat dibutuhkan untuk untuk mendorong produktivitas SDM pertanian. Menurt BPS (2015), jumlah pelaku wirausaha dibidang pertanian hanya sekitar 44.20 juta jiwa atau setara dengan 0.17 persen dari total penduduk Indonesia. Rendahnya tingkat wirausahawan di sektor pertanian diindikasikan sebagai gap SDM dan persoalan pendidikan di tingkat petani.

Petani muda wirausaha sebagai anggota keluarga berperan sebagai generasi penerus yang mampu menjamin kesejahteraan keluarga dengan mengembangkan usahatani sebagai mata pencaharian. Untuk itu, petani muda perlu disiapkan sebaik mungkin sebagai generasi muda penerus pelaku utama dan pelaku usaha pertanian masa depan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam mengembangkan berbagai usaha agribisnis.

Sebagai sumberdaya manusia yang potensial, petani muda wirausaha berperan menjadi insan sosial yang bertanggung jawab atas segala sikap dan tindakannya dan menjadi individu yang memiliki kepemimpinan pertanian serta berperan aktif dalam berbagai bidang pembangunan, khususnya di bidang pertanian.

Oleh karena itu, pengembangan petani muda wirausaha adalah upaya peningkatan kompetensi petani muda dalam mengakses teknologi, modal, pasar dan manajemen sehingga menjadi petani muda wirausaha mandiri yang inovatif, kreatif, mampu bersaing, berwawasan global dan profesional. Oleh karena itu minat generasi muda sngat di butuhkan.

Minat adalah modal utama untuk membangun suatu bisnis yang nantinya akan sangat berpengaruh terhadap perilaku petani muda wirausaha. Hal inilah yang Indonesia perlukan, kemandirian ekonomi yang akan diwujudkan oleh petani muda wirausaha merupakan mimpi dari bangsa. Sehingga jawaban tentang apa yang dipertanyakan diatas mulai dapat terjawab satu persatu. Akan tetapi muncullah pertanyaan baru, yaitu “ bagaimana mempertahankan petani muda wirausaha?”… ini adalah pertanyaan besar bagi Indonesia. Tidak hanya memberikan modal serta advokasi petani muda wirausaha, akan tetapi bagaimana membimbing mereka untuk mampu bertahan dengan risiko pertanian yang  besar. Bagaimana bisnis pemula itu bisa bertahaan dan maju bersama Indonesia menuju moderenisasi pertanian.

*Ridha Rizki Novanda, adalah Kandidat Master Agribisnis, Institut Pertanian Bogor. Email : ridha.rizki.novanda@gmail.com Nomor telp. 085729557910

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *