Bahan Bacaan sebagai Ilmu Terapan dalam Menghadapi Normal Baru Bahan Bacaan sebagai Ilmu Terapan dalam Menghadapi Normal Baru
Oleh: Heri Maja Kelana* Saya teringat judul novel Sampar yang sangat terkenal dari penulis Albert Camus, kira-kira menggambarkan suasana Prancis pada masa Nazi. Penyakit... Bahan Bacaan sebagai Ilmu Terapan dalam Menghadapi Normal Baru

Oleh: Heri Maja Kelana*

Saya teringat judul novel Sampar yang sangat terkenal dari penulis Albert Camus, kira-kira menggambarkan suasana Prancis pada masa Nazi. Penyakit sampar yang menyerang manusia ini terjadi di Kota Oran. Sehingga, banyak pengucilan terhadap orang yang terkena wabah sampar. Bernard Rieux, seorang dokter sebagai tokoh pencerita pada novel tersebut, tidak dapat menyembuhkan, ia hanya dapat mendiagnosis pasiennya. Apabila positif sampar, maka dokter akan mengarantina atau mengucilkan orang yang terkena wabah penyakit tersebut.

Apabila dikaitkan dengan pandemi covid-19 yang terjadi sekarang, ada kesamaan dengan apa yang diceritakan oleh Albert Camus pada novelnya. Wabah yang melanda ini belum ada obatnya. Dokter hanya dapat mendiagnosis kemudian mengarantinanya.

Kanti W. Janis, yang juga Sekjen Satupena, memberikan satu pemahaman terkait topik Memilih Bacaan untuk Menghadapi Normal Baru Pascapandemi. Pemahaman ini disampaikannya pada kegiatan Word Book Day 2020, Indonesia Online Festival, yang dilaksanakan pada Jumat malam (24/4/2020). Acara ke-6 ini dilaksanakan pada pukul 20.00 WIB, yang dimoderatori Vudu Abdul Rahman.

Memahami Wabah dari Jejak Sejarah

Kanti W. Janis—yang menerbitkan  novel pertamanya Saraswati pada tahun 2006—memberi alasan topik mengenai normal baru yang akan manusia hadapi, “Berdasarkan sejarah, wabah itu bukan hal yang baru, manusia modern telah mengalaminya berkali-kali”.

Ia membuka  topiknya dengan melihat jauh ke sejarah wabah yang telah mengubah peradaban dan keruntuhan dinasti. Mengutip sebuah artikel berjudul Virus Corona: Sejarah Menunjukkan Wabah Bisa Ubah Peradaban dan Meruntuhkan Dinasti pada laman bbc.com Indonesia (Sabtu, 25/4/2020), wabah yang dikenal pada abad ke-14, lanjut perempuan yang berprofesi sebagai advokat ini, terjadi wabah kematian hitam (black death). Dampak wabah ini meruntuhkan sistem feodalisme lama, ”Kenapa? Karena saat itu, sekitar 75-200 juta jiwa mati di Eurasia dan Afrika, sehingga pekerja menjadi sedikit. Semakin sedikit pekerja, otomatis upah semakin tinggi, dong,” sambungnya, “Para tuan tanah dan para aristokrat akhirnya menemukan teknologi baru,” tambah penulis buku Frans dan sang Balerina ini.

Ia menjelaskan juga tentang wabah Demam Kuning yang memaksa Haiti melakukan Revolusi melawan Prancis. Saat itu, Napoleon kewalahan untuk mempertahankan Haiti sehingga Amerika Serikat mengambil alih Haiti. Selain itu, ia memberi contoh Wabah Ternak (Rinderpest) yang terjadi di Afrika. Wabah ini telah menjangkiti 90% ternak yang menyebabkan kelaparan di benua hitam itu. Kehidupan sosial rontok sehingga masyarakat kabur dari daerah terdampak wabah tersebut. Akibatnya, penjajah dari Eropa cepat masuk ke Afrika.

Dari beberapa catatan sejarah tentang wabah tersebut, Kanti menyimpulkan bahwa dampaknya telah mengakibatkan perubahan kehidupan sosial yang drastis.

Prediksi Media Terhadap Kelahiran Normal Baru

Sebagaimana penjelasan Kanti, semua media arus utama dari dalam dan luar negeri, memprediksi bahwa akan terlahir normal baru, “Kita tidak akan kembali pada ritme kehidupan sebelum terjadi Covid-19. Sekarang, orang-orang bicara tentang bekerja dari rumah merupakan satu hal dari dampak normal baru tersebut,” ungkapnya.

“Sebenarnya berapa banyak, sih, yang benar-benar bekerja dari rumah?” pertanyaan retoris Kanti ini dikaitkan dengan data pekerja informal lebih banyak dari pekerja formal berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2019, yang dikutip kanti dari Badan Pusat Statistik.

Ia memaparkan pada layar zoom, bahwa BPS mencatat total pekerja Indonesia usia 15 tahun ke atas per Agustus 2019, sebanyak 126,51 juta orang. Persebaran terbanyak terdapat pada pekerja informal, yaitu mencapai 70,49 juta orang. Angka ini lebih tinggi dari pekerja formal yang hanya 56,02 juta orang. Dari angkatan kerja itu, tegasnya, mayoritas didominasi pekerja sektor informal pertanian (88.27%).

Secara sederhana, Kanti memberi pengertian pekerja informal sebagai pekerja yang bertanggung jawab atas perseorangan yang tidak berbadan hukum dan hanya berdasarkan atas kesepakatan. Menurut Rusli Ramli (1985), seperti dikutipnya, sektor informal merupakan suatu pekerjaan yang umumnya padat karya, kurang memperoleh dukungan dan pengakuan dari pemerintah, juga kurang terorganisir dengan baik.

“Sekarang, di tengah wabah ini, tanpa disadari telah menghadapi normal baru. Kawan-kawan saya, telah banyak beralih ke industri pengolahan. Membuat makanan, minuman, bisnis menyediakan masker, menjahit APD, membuat hand sanitizer. Sudah masuk ke pekerjaan informal,” ia mencontohkan.

Data lain pada paparannya bersumber dari Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (AKSES), dari pekerja formal diperkirakan hanya total 10% dari 56,02 juta yang benar-benar dapat bekerja dengan metode remote, yaitu kelompok top-middle manager dan para prekariat.

Ia menyebutkan bahwa pekerja formal belum tentu bisa bekerja di belakang meja, laptop, di Bali atau gunung mana. Meskipun mereka telah memiliki akses internet, pada realitasnya tidak demikian. Menurutnya, definisi dari pekerja formal adalah mereka yang dinaungi badan hukum atau badan-badan perusahaan lainnya sehingga memiliki legalitas. Contohnya, seorang pelayan tentu tidak bisa bekerja dari rumah. Pekerjaannya harus menggunakan tangan, bertemu banyak orang, tetapi karena dinaungi sebuah perusahaan, maka menjadi pekerja formal juga. Jadi, mereka termasuk dalam kelompok top-middle manager dan para prekariat.

“Mungkin, saya salah seorang prekariat karena bekerja formal sebagai advokat atau lawyer. Jadi freelance yang memiliki law firm sendiri, bekerja dengan skill tertentu. Contoh lain, konsultan, dokter, termasuk prekariat,” akunya.

Kanti mengklasifikasi pekerjaan sektor informal mengutip Urip Soewarno dalam Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter Evers (1979: 39), yakni: Angkutan; penarik becak, delman, dan grobak. Perdagangan; pedagang kaki lima, pedagang asongan, makanan, minuman,pakaian, barang bekas, alat tulis, dan keperluan rumah tangga. Industri pengolahan: membuat makanan dan minuman, industri kayu, dan bahan bangunan. Bangunan; tukang teraso, kayu, besi, dan batu. Jasa-jasa; tukang jahit, semir sepatu, reparasi arloji, dan radio.

Memilih Bacaan yang Relevan

Bagi Kanti, ia percaya bahwa membaca dapat menghadapi apa pun. Membaca buku sangat dekat untuk menambah ilmu pengetahuan. Namun begitu, bahan bacaan tidak terpaku pada buku di era multimedia berkuasa seperti saat ini.

“Dengan menambah ilmu pengetahuan, kita bisa beradaptasi dengan perubahan,” ia meyakinkan seluruh peserta diskusi daring. Bahkan, bacaan dapat memengaruhi keseimbangan psikologis di tengah tekanan pandemi. Ia pun menjelaskan bahwa sebaiknya harus sering melihat ke dalam diri, menyeleksi mana yang paling esensial di dalam hidup, melihat bahwa relasi ketergantungan antarmanusia begitu tinggi, juga manusia dengan alam, kembali menggunakan tangan, berpeluh keringat dalam bekerja, kita disadarkan mana pencapaian semu dan mana pencapaian nyata.

Bagi perempuan yang kerap berkebaya ini, bahwa setiap individu dapat melakukan asesmen pribadi dengan mempertanyakan kepada diri sendiri tentang kebutuhan dasar, “Apa yang bisa disediakan?” Ia mencontohkan merunut kebutuhannya sendiri; 1. Makanan Bergizi, 2. Air Sehat, 3. Ketenangan Pikiran, 4. Kesehatan Raga.

Jargon Empat Sehat Lima Sempurna sudah tidak relevan karena seperti menyeragamkan kondisi geografi dan iklim di daerah, perspektifnya, karena Indonesia ciri utamanya keragaman, bukan hanya suku dan agama, melainkan keragaman pangan. Jika ingin bertahan dari krisis apa pun, harus bisa memberi diri sendiri makan yang bergizi dengan sumber daya yang ada di sekitar. Oleh karena itulah, jargon Empat Sehat Lima Sempurna  telah diganti oleh Kemenkes dengan istilah Pola Makan Gizi Seimbang.

Menurutnya, Kemenkes telah mengakui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan keragaman pangan juga. Sepuluh Pedoman Gizi Seimbang sebagaimana dikutip pada laman p2ptm.kemenkes.go.id: Biasakan mengonsumsi aneka ragam makanan pokok. Batasi konsumsi panganan manis, asin, dan berlemak. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan ideal. Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Biasakan sarapan pagi. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman. Banyak makan buah dan sayur. Biasakan membaca label pada kemasan pangan. Syukuri dan nikmati aneka ragam makanan.

Kebutuhan pola gizi seimbang tersebut kemudian Kanti kaitkan dengan bahan bacaan yang dibutuhkan pada masa pandemi. Buku-buku yang terkait dengan kebutuhannya tersebut, yakni The New Health Rules (Frank Lipman, M. D. & Danielle Carlo), buku sederhana yang memberikan pemahaman baru tentang cara makan yang telah dipraktikkannya. Di antaranya, makan harus menjauhi gula pasir, jika ada pemanis lain meskipun harus dipastikan jenisnya, masih bisa. Jika gula langka, tidak masalah, karena sudah bertahun-tahun tidak mengonsumsinya.

“Memilih Bahan Bacaan yang berdampak untuk memahami kebutuhan tubuh, kesehatan. Mengingat penjelasan sebelumnya, bahwa pekerja informal masih tinggi, dalam 1,5 km dari rumah menuju sekolah sekira 30 orang lebih tidak menggunakan masker. Mereka tidak dapat disalahkan karena keadaan yang serba timpang,” sela Vudu Abdul Rahman, moderator malam itu. “Mati karena virus atau kelaparan? Ini kerja bersama agar keadaan semakin membaik,” Kanti menanggapi.

Sesuai bacaan sang pembicara, sebaiknya membeli bahan makanan organik dan lokal karena semakin lokal semakin tahan. Rantai distribusinya pendek yang akan membuat aman. Jadi, tidak perlu takut dengan ketahanan pangan. Lemak juga bagus untuk tubuh tergantung dari bahannya, seperti alpukat, kacang-kacangan, minyak kelapa, ikan, dlsb.

Lalu buku berjudul Teknologi Praktis untuk Petani Mandiri (Sentot Burhanudin Iksan), seperti yang dibacanya, bahwa Indonesia kerap disebut negara agraris dan maritim terbesar. Namun, pengetahuan tentang pertanian sangat minim. Meskipun buku ini terlihat semacam text book yang secara visual kurang menarik. Bagi Kanti justru sebaliknya, bahwa isi bacaannya sangat real karena sebagai praktik dari pemanfaatan lahan kecil 3×4 meter, tapi dapat menyediakan pangan untuk keluarganya. Tanaman obat, makanan seperti singkong, sayur-sayuran, buah-buahan, tersedia dengan meminjam lahan dari tetangga. Bagi pembicara sangat menarik untuk mempraktikkannya; menanam sayur, pepaya, pisang kepop, yang tumbuhnya cepat. Orang-orang urban sudah mulai melakukannya di Cikini, Jakarta, seperti dikutipnya dari laman thejakartapost.com. Ia mencontohkan global farming; Jakarta Berkebun, Indonesia Berkebun, sebuah program yang sudah lama. Artinya, di kota juga bisa bertani.

Pada buka lain berjudul, Titik Balik Evolusi Budaya Air Hujan (V. Kirjito), Kanti belajar untuk mengelola air hujan menjadi air minum. Semakin self sustainable, maka akan baik-baik saja dalam menghadapi normal baru. Pada praktiknya sekitar enam bulan, air hujan ditampung dengan menggunakan alat saring, kemudian dielektrolisa, menghasilkan 8 – 9 PH yang baik untuk dikonsumsi. Jauh lebih penting baginya, tidak mengambil air tanah dan kemasan. Air bermerk mengambil air dari desa, yang membuat daerah itu kering, kemudian dibawa ke Jakarta.

Pertanyaan Iwan Kamah, terkait memilih bacaan untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya, masyarakat diberi bacaan-bacaan solutif, praktik, dan memenuhi kebutuhan harian.  Harapan Kanti, para pegiat literasi dapat memasifkan gerakan membaca buku terapan melalui gerakan sipil agar naik ke permukaan. Perlahan-lahan, akan menjadi aktivitas massif masyarakat.

Dalam kondisi ini, bagi Kanti, kesehatan mental sangat penting. Menurutnya, tidak perlu memaksa diri seperti terlihat bahagia, kuat, produktif. Jika sedih, mengeluh, luapkan saja. Semua pihak akan mengerti karena mengalami hal yang sama. Jadi, membaca buku psikologi yang menguatkan diri sendiri, semisal buku The Drama of the Gifted Child (Alice Miller), Buku tersebut tentang menyembuhkan trauma masa kecil. Setiap anak memiliki trauma itu, perspektik ini memberikan sudut pandang berbeda kepada Kanti.

Buku lain atas Saran Kanti, yaitu The Miracle of Endorphin (Dr. Shigeo Haruyama), mengupas tubuh manusia yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Di dalam tubuh memiliki farmasi, jika kita bahagia, maka akan sembuh. Hal ini berkaitan dengan meningkatkan imunitas tubuh.

Tips membaca agar terus teringat menurutnya dengan memberikan garis bawah. Membuat ringkasan agar menempel terus, diingat dan menambah pengetahuan. Buku lain yang disodorkan Kanti, yaitu Healing Food, tentang gizi agar mempelajari kekayaan sumber daya alam sekitar. Pembaca dapat membedakan makanan yang bisa membahayakan dan menyembuhkan. Buku-buku tersebut ia pilih sebagai bekal terapan untuk memenuhi kebutuhan harian.

Kanti mengatakan bahwa bahan-bahan bacaan pada normal baru dapat berguna untuk kepentingan setiap individu. Bahan-bahan bacaan itu lahir dari pertanyaan-pertanyaan terhadap kebutuhan dasar apa yang dapat disediakan sendiri. Seperti makanan sehat, air sehat, ketenangan pikiran, serta kesehatan raga.

Buku-buku yang kita konsumsi hendaknya dapat dibuat menjadi praktik baik di rumah. Seperti membuat urban farming, mengolah air hujan menjadi air yang baik untuk dikonsumsi, memilih bahan makanan yang sehat untuk tubuh kita.

Muhamad Husin, pemirsa yang mengikuti diskusi daring dari Dinas Pendidikan Jakarta, berpendapat bahwa membaca tergantung suasana; bisa fiksi dan nonfiksi. Tidak sekadar suasana, melainkan kebutuhan atau terapan yang sangat berdampak pada kebutuhan harian. Mengingat anak-anak telah berada pada titik jenuh pembelajaran daring, ia melanjutkan, membaca buku praktik baik dalam bentuk fiksi dan nonfiksi adalah solusi. Anak-anak dapat diberikan pendidikan yang relevan dengan situasi sekarang. Ilmu pengetahuan berkaitan dengan kondisi yang dihadapi. Buku-buku prakarya bisa jadi alternatif agar anak-anak dapat mempraktikkan sendiri, bahkan mandiri.

Saran Kanti, apa pun jenis bukunya; agama, seni, sains, agar melibatkan anak-anak untuk mempraktikkannya. Artinya, porsi praktik lebih besar.

Suroto, pekerja sosial dari Jakarta, pemirsa lain menambahkan bahwa bayangan masa depan tidak lagi dengan menggunakan pola pikir mekanistis. Normal baru harus disikapi dengan cara-cara yang tidak mekanistik. Pola hidup harus lebih kreatif dengan mencari rujukan yang menguatkan untuk dipraktikkan. Usulannya, yaitu mereproduksi literasi dengan konsep baru yang sederhana berdasarkan bahan bacaan terapan. Memaknai pandemi ini salah satunya, merupakan disfungsi skala normal sebelumnya. Yang memahami kita, yaitu diri sendiri. Tidak perlu lagi obsesius semacam memiliki rumah mewah, mobil mewah, dan hidup nyaman. Ilmu pengetahuan semestinya dapat mengubah hidup ke arah lebih baik. Namun, menjadi semacam kurang bermakna ketika manusia tidak dapat menerapkannya, apalagi ketika dipenjara oleh pandemi.

Sekolah itu bukan tentang bangunan, kata Kanti, semacam masyarakat adat, mereka belajar dengan mengamati alam, bereaksi terhadap siklus alam. Tidak menekankan belajar di dalam bangunan. Faradila Bachmid, pegiat literasi Manado, menguatkan bahwa anak-anak lebih senang bermain di pantai. Ia mencontohkan anak-anak Pulau Gangga, ketika mereka membuka pintu rumah, langsung terhubung dengan laut.

Memilih bahan bacaan untuk menghadapi normal baru, Vudu sebagai moderator menegaskan agar sadar ruang, sadar jarak, dan sadar diri. Kita belajar memahami tubuh, diri, kejiwaan, batas. Maka seperti apa yang dicatatnya, buku yang tepat untuk dibaca, yakni berkaitan dengan sains, kesehatan, pertanian.

Pengakuan kanti pada masa kecilnya, tentang cara pandang terhadap hujan berbeda dengan hari ini. Bahkan, jika ada halilintar ia merasa takut, dulu, tapi ia merasa girang sekarang hingga menari-nari. Hal-hal kecil, sederhana, membuat anak-anak bahagia. Anak-anak pasti senang jika diajak beraktivitas mulai dari membaca, langsung dipraktikkan, dan dinikmati tubuh. Begitu juga dalam bercocok tanam, anak-anak bisa diajak praktik untuk menyetek pohon, membuat apotik hidup, memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang dapat dikonsumsi.

“Perlu jujur terhadap diri sendiri, imajinasi, humor. Seperti hari ini, saya menggunakan kaca mata bolong. Hahaha,” celoteh Kanti.

Krisis yang Membayangi

Selain krisis kesehatan, menurut Kanti, krisis yang membayangi pascapandemi, yaitu krisis iklim yang berpengaruh terhadap dunia semakin panas dan musim panen berubah. Bahkan, wabah ini muncul ditengarai karena krisis iklim. Bisa terjadi karena perilaku manusia yang tidak mau berkomunikasi dengan lingkungannya. Merasa paling tinggi dalam rantai makanan. Seharusnya, hubungan manusia dengan alam tidak bersifat hirarkis. “Apakah aktivitas manusia diam di rumah, memengaruhi iklim jadi lebih baik?” tanya retorisnya.  Krisis iklim terjadi sudah ratusan tahun, masa karantina tidak cukup berpengaruh terhadap iklim pada masa pandemi sekarang, jawabnya. Tentu dengan situasi sekarang ini, banyak penurunan kendaraan serta polusi dari pabrik-pabrik tidak memberikan efek yang signifikan terhadap perubahan iklim.

Berdasarkan informasinya, banyak sekali krisis yang terjadi, terutama krisis ekomoni sosial dan budaya. Krisis ini kemudian akan menghantui negara-negara berkembang maupun negara maju. Mereka akan menata kembali ekonomi sosial serta budaya tersebut yang kemudian menjadi normal baru. Normal baru pada masyarakat Indonesia khusunya, dunia umumnya pasti akan terjadi. Sebab mereka tidak mau wabah seperti ini terjadi lagi. Atau seperti yang dikatakan Kanti “normal baru tidak dapat dihindari, sekarang tinggal memilih mau menjadi poros perubahan atau ikut arus” pungkas Kanti.

Vudu Abdul Rahman mencatat, pandemi mengubah pola pikir, pola hidup, dengan memilih bacaan yang berpengaruh baik pada tubuh, psikologis, mental.

*Penulis, pengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung

 

gerbang 86

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *